Capres Milenial, Bukan Lu Lagi Lu Lagi

Capres Milenial, Bukan Lu Lagi Lu Lagi



KAUM muda tak mau Pilpres 2024 jadi 4L: lu lagi lu lagi. Wajah baru, termasuk Ridwan Kamil, jadi pilihan mereka.

Banyak lembaga survei menyatakan elektabilitas Anies Baswedan melorot. Tapi, Gubernur DKI Jakarta itu ternyata punya ceruk suara sendiri. Mereka adalah kalangan anak muda, kaum milenial.

Begitulah hasil telisik lembaga survei Indikator Politik Indonesia. Mereka melakukan survei nasional terhadap suara anak muda pada 4-10 Maret lalu. Anak muda yang dimaksud adalah mereka yang berusia 17-21 tahun.  Jumlahnya 1.200 responden.


Survei dilakukan dengan menggunakan kontak telepon. Mereka diacak dari kumpulan survei tatap muka langsung yang dilakukan Indikator pada rentang Maret 2018 hingga Maret 2020.

Dengan asumsi metode simpel random sampling, ukuran sampel 1.200 repsoden memiliki toleransi kesalahan (margin of error) sekitar 2,9 persen dengan tingkat kepercayaan 95%.

Hasilnya? Berbeda dengan telisik lembaga survei lain secara umum, maka anak muda menginginkan perubahan wajah dalam kontestasi Pilpres 2024 sekaligus pemimpin nasional nantinya. Politisi lama, old crack, nyaris tak laku lagi.

Termasuk Prabowo Subianto. Politisi Gerindra yang sudah tiga kali kalah dalam kontestasi Pilpres itu, tak masuk hitungan utama anak muda. Padahal, rata-rata lembaga survei yang melakukan telisik umum, menyebutkan elektabilitas Prabowo masih paling tinggi di antara politisi lainnya.

Anak muda menginginkan wajah baru sebagai pemimpin nasional. Anies Baswedan menjadi pilihan terbanyak di antara 17 nama lainnya yang disodorkan Indikator.

“Di antara 17 nama yang paling tinggi secara absolut yang tertinggi itu Anies Baswedan,” kata Direktur Eksekutif Indikator Indonesia, Burhanuddin Muhtadi dalam acara zoom meeting Rilis Survei Indikator: Suara Anak Muda tentang Isu-isu Sosial, Politik Bangsa, Minggu (21/3).

Berdasarkan hasil survei itu, Anies mendapatkan pilihan sebesar 15,2%, disusul Ganjar Pranowo sebesar 13,7% dan Ridwan Kamil 10,2%.

Sementara itu, Sandiaga Uno dan Prabowo Subianto, duet yang maju pada pilpres lalu, tak sampai mendapat suara dua digit. Sandiaga mendapat suara 9,8% sedangkan Prabowo 9,5 persen. Di posisi keenam ada Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebesar 4,1%.

Sisanya, masing-masing nama mendapat pilihan di bawah 2 persen, seperti Tito Karnavian, Puan Maharani, Eric Thohir, Gatot Nurmantyo, dan Khofifah Indar Parawansa.

Dari survei ini ditemukan juga data anak muda yang memilih Joko Widodo, pilihannya menyebar ke sejumlah nama. Akan tetapi, Anies paling banyak mendapat pilihan dari pendukung Prabowo-Sandi.

“Kalau melihat datanya secara umum, Anies paling banyak mendapat dukungan di antara mereka yang mencoblos Pak Prabowo-Sandi pada Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden 2019,” kata Burhanuddin.

Dalam survei itu, pertanyaan yang diajukan adalah jika pemilihan presiden diadakan sekarang, siapakah yang akan dipilih sebagai presiden di antara 17 nama yang disebutkan.

“Kalau ditanya kepada anak muda 17 nama yang paling tinggi walaupun kisaran margin of error dengan Ganjar dan Ridwan Kamil secara umum tidak ada nama yang dominan. Akan tetapi, di antara 17 nama yang paling tinggi secara absolut itu Anies di angka 15,2%,” kata Burhanuddin.

Namun, jumlah anak muda yang belum memilih nama untuk menjadi presiden masih sebesar 30,5%.

Jika dibedah berdasarkan sosiodemografi, lanjut Burhanddin, masing-masing nama memiliki kekuatan masing-masing berdasarkan tempat, gender, usia, dan etnis.

Misalnya berdasarkan etnis, anak muda Jawa memilih Ganjar Pranowo sebesar 22,1%. Akan tetapi, yang memilih Anies juga banyak ada 12,2%, disusul Sandiaga Uno 10,3%.

Di kalangan anak muda Sunda lebih memilih Ridwan Kamil sebesar 28,6%, disusul Anies sebesar 15,5%, dan Prabowo-Sandi masing-masing 10,3%.

Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menanggapi hasil survei yang menunjukkan Ganjar Pranowo berada di urutan kedua calon presiden (capres) yang dipilih anak muda. Posisi kader PDIP tersebut tepat berada di bawah Anies Baswedan. 

“Ya undecided-nya (jumlah orang yang belum menentukan pilihan) masih cukup besar,” ujar Hasto.

Survei juga menunjukkan sebagian besar anak muda Indonesia menyatakan puas dengan kinerja Presiden Joko Widodo. Tapi, mayoritas anak muda Jakarta cenderung tidak puas dengan kerja Jokowi (61,7%). 

Burhanuddin menjelaskan, hasil surveinya menunjukkan 58,6% anak muda merasa cukup puas dan 6,8% merasa sangat puas. Hasil ini lebih tinggi dibandingkan survei yang dilakukan Februari: 57,8% cukup puas dan 5,1% sangat puas. 

“Mayoritas, 65,4%, merasa sangat/cukup puas dengan dengan kerja Presiden Joko Widodo. Kepuasan ini relatif berimbang dengan opini publik pada survei Februari lalu.” kata Burhanuddin.

Survei juga menemukan kebanyakan anak muda Jakarta merasa tidak puas, sementara daerah-daerah lain menyatakan cukup puas dan sangat puas. 

“Anak muda di DKI mayoritas tidak puas. Kepuasan berimbang pada anak muda di Sulawesi, etnis Minang, dan berpendidikan SD ke bawah,” kata dia. 

Sementara, untuk pilihan partai dalam pemilihan anggota DPR, 16% anak muda memilih Partai Gerindra, sedangkan 14,6% memilih calon legislatif (caleg) dari PDI Perjuangan. 

Sedangkan, Partai Golkar, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan Partai Demokrat hanya dipilih anak muda masing-masing sekitar 5%. Di bawah 3% persen ada Partai Nasdem, PKB, dan PAN, dan di bawah 1% persen ada PPP, PSI, Berkarya, Pelindo, Hanura, serta PBB. 

Namun demikian, Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi, mengatakan ada 42% anak muda yang belum menentukan pilihannya. 

Burhanuddin mengatakan ada sejumlah kemungkinan dari 42% anak muda yang belum menentukan pilihannya tersebut. 

Pertama, kemungkinan mereka memang tidak mau mencoblos sehingga pada saat survei mereka menjawab tidak tahu atau tidak jawab. “Tapi bisa juga karena anak muda yang kita wawancarai waktu survei awal Maret itu belum tahu betul siapa yang akan mereka pilih,” kata Burhanuddin. (ing)