Mendikbud Dorong Buku Teks Demokratis Atasi Bias Gender Buku Pelajaran

Mendikbud Dorong Buku Teks Demokratis Atasi Bias Gender Buku Pelajaran
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim. (antara)



INILAH, Jakarta - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mendorong penulis dan penerbit menyediakan pilihan buku teks demokratis untuk mengatasi masalah bias gender dalam buku pelajaran.

Hal tersebut diakui Nadiem bukan hal mudah, mengingat terjadi pula di seluruh dunia, dan menjadi masukan baginya saat pihaknya berupaya menggalakkan program "Merdeka Belajar."

"Menurut saya, amat sangat penting adalah menyediakan banyak pilihan buku teks dan menghilangkan elemen itu, di mana kita membuat buku teks lebih demokratis dan memperbanyak buku bacaan, dengan buku digital, perpustakaan, dan sebagainya," ujar Nadiem dalam webinar Internasional “The Power of Unreasonable Women” di Jakarta, Senin.


Nadiem mengingatkan kembali permasalahan dalam buku teks bukan hanya memerangi bias gender, namun juga radikalisasi. "Selain itu secara individual, memerangi kekerasan seksual dan perundungan yang sangat berhubungan dengan kesetaraan gender."

Perang tersebut dia sebutkan dalam tiga dosa besar pendidikan yakni intoleransi, kekerasan seksual dan perundungan. Ketiga hal tersebut merupakan bentuk abuse of power atau penyalahgunaan kekuasaan dari kelompok mayoritas masyarakat.

"Kita mencoba mengirim sinyal pada sistem yang ada, kita ada di sini sebagai masyarakat yang bersatu dan percaya terhadap kesetaraan dan keadilan untuk semuanya," ujar Nadiem.

Dia berharap di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tiga hal berkaitan tersebut dapat dan harus dihapuskan.

Sebelumnya,  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim hadir sebagai narasumber dalam gelar wicara webinar Internasional dengan CEO Publicis Communications Singapore, Lou Dela Pena, yang mengangkat tema The Power of Unreasonable Women. (antara)