Sikap Kami: Universalitas Persib

Sikap Kami: Universalitas Persib



PERSIB Bandung adalah universalitas, bahkan sejak lahirnya. Dia bukan hanya milik warga Kota Bandung, bahkan Jawa Barat umumnya. Di dalam tubuhnya pun darah-darah “asing”.

Salah satu yang lekat dengan Persib, selain kebandungan dan kejawabaratan, adalah keminangkabauan. Ketika 88 tahun lalu Persib pertama kali lahir, salah satu anggotanya adalah klub Singgalang. Ada pula klub Merapi. Dua klub itu sangat kental keminangkabauannya, sama seperti PS Gumarang di Persija.

Bahkan, ketua umum Persib ketika pertama kali berdiri adalah Anwar Sutan Pamoentjak. Dia aktivis dan tokoh perjuangan berdarah Minang yang berkiprah di Kota Kembang, bahkan sempat jadi anggota DPRD-S Bandung.


Hingga kini, universalitas Persib itu tetap terjaga. Bukan lagi dalam pentas nasional, bahkan hingga dunia. Seabreg pemain dan pelatih asing bermain dan bekerja untuk Persib. Begitulah sepak bola di era sekarang. Dia bukan lagi komunitas bersifat lokal, tapi semakin tipis batas-batasnya.

Dalam konteks sepak bola, sebuah klub kini memang bukan lagi milik komunitas lokalnya. Dia bisa saja dicintai dan didukung orang-orang luar. Karena itu, fanatisme sempit dalam memberikan dukungan, seharusnya sudah semakin tipis dan tak lagi jadi warna utama.

Dan, memang begitulah seharusnya. Sebab, fanatisme sempit hanya akan memunculkan dukungan yang sempit pula. Hanya soal kalah-menang. Padahal, sepak bola, atau olahraga pada umumnya, bukan lagi hanya sekadar kalah-menang. Kompetisi hanya salah satu bagian saja.

Rasanya, dalam usia 88 tahun, itu pulalah yang sepatutnya dilakukan Persib. Bagaimana menjadikan klub ini tak hanya bersandar pada lokalitas, melainkan kualitas yang mengindonesia. Tentu, tak mungkin mengabaikan warna kebandungan dan kejawabaratannya. Tapi, sebagai klub, sebagai bagian dari industri, dia juga harus meluaskan pasar ke manapun juga.

Maka, Persib sebaiknya tidak lagi melulu bicara soal juara. Dia harus memiliki warna khas yang membuat seantero negeri mencintainya. Salah satu, misalnya, menjadikan sepak bola indah yang memesona dunia seperti era mereka menguasai perserikatan dulu.

Dalam konteks sepak bola sebagai bisnis, hal-hal semacam itu sudah dilakukan banyak klub di dunia. Tengok saja misalnya bagaimana klub-klub raksasa dunia mendekatkan diri ke Asia. Salah satu tujuan utamanya adalah perluasan pasar.

Persib sebenarnya sudah punya jejak untuk itu. Bahkan hingga kini. Tengok, pemain pujaannya bukan hanya pemain asal Jawa Barat. Ingat, betapa sedihnya fans Persib ketika harus berpisah dengan Hariono, misalnya. Begitulah universalitas Persib dan itu semestinya harus diperkuat. (*)