Setelah Lawatan 2011, Pangeran Harry dan Meghan Baru Kunjungi Maroko

Setelah Lawatan 2011, Pangeran Harry dan Meghan Baru Kunjungi Maroko
Ilustrasi



INILAH, Maroko - Pangeran Harry dari Inggris dan Meghan, istrinya yang sedang hamil, tiba di Pegunungan Atlas Maroko pada Minggu (24/2/2019). Apa yang mereka lakukan?

Mereka akan menunjukkan dukungan bagi pendidikan remaja perempuan pedesaan. Kunjungan atas permintaan Pemerintah Inggris itu merupakan yang kedua ke Kerajaan Maroko dalam beberapa tahun belakangan oleh seorang anggota keluarga kerajaan Inggris, setelah lawatan Pangeran Charles tahun 2011. Ratu Elizabeth mengunjungi Maroko pada tahun 1980.

Harry dan Meghan tiba di Casablanca pada Sabtu malam. Di Pegunungan Atlas pada Minggu mereka akan bertemu dengan remaja perempuan di asrama yang dikelola Education for All.

Yaitu, satu lembaga swadaya masyarakat yang membangun asrama dekat sekolah-sekolah untuk mengurangi tingkat putus sekolah di antara anak-anak perempuan yang berusia 12 hingga 18 tahun.

Ketika pasangan tersebut tiba, para remaja dari asrama itu mengibarkan bendera-bendera Maroko dan Inggris.

"Pangeran Harry akan melihat pekerjaan yang dilakukan untuk mempromosikan pendidikan remaja perempuan, memberdayakan anak-anak muda dan mendukung anak-anak dari latar belakang yang kurang menguntungkan," kata Istana Kensington.

Meghan akan berperan serta dalam upacara melukis tubuh dengan henna demi kecantikan, keberuntungan, dan kegembiraan.

Sementara di Asni, Harry dan Meghan akan bertemu dengan siswa-siswa setingkat sekolah lanjutan atas dan para guru setempat dan setelah itu menghadiri pertandingan sepak bola.

Desa Asni hanya berjarak 15 km dari Imlil, lokasi panjat tebing dan treking, tempat dua wanita Skandinavia tewas pada Desember. Empat tersangka orang Maroko ditangkap karena kasus pembunuhan itu.

Pihak berwenang mengatakan mereka bertindak sendiri walaupun para tersangka telah berjanji patuh kepada kelompok IS di satu video.

"Kunjungan itu berita bagus bagi orang-orang di kawasan itu setelah peristiwa tragis tersebut," kata Mike McHugo, pendiri Education for All.