10 Tips Lindungi Anak Saat Menggunakan TikTok

10 Tips Lindungi Anak Saat Menggunakan TikTok
istimewa



TikTok telah meluncurkan Toolkit Keamanan Keluarga yang bisa digunakan orang tua untuk memandu anak saat menggunakan platform digital tersebut.

Panduan ini berisi 10 tips yang bisa melindungi anak saat bermain TikTok sekaligus menjadikan mereka lebih bijak berinternet.

Menurut TikTok, toolkit ini ditujukan untuk membuat platform yang aman dan nyaman bagi semua penggunanya. Toolkit ini juga menjadi pelengkap dari sederet fitur keamanan yang telah diluncurkan TikTok.


Berikut 10 tips pengasuhan digital dari Toolkit Keamanan Keluarga untuk orang tua agar bisa melindungi putra-putri remajanya saat bermain TikTok:

1. Periksa kesiapan teknologi anak

Orang tua harus menentukan kapan anak bisa aktif dalam dunia digital, termasuk memiliki perangkat sendiri dan membuat akun media sosial. Saat ini, TikTok menerapkan batas usia 14 tahun ke atas. Artinya anak di bawah usia 14 tahun tidak bisa membuat akun TikTok sendiri.

2. Sepakat tentang batasan teknologi keluarga

Orang tua harus menetapkan batasan kapan dan di mana anak boleh mengakses perangkat digitalnya. Selain itu, orang tua juga harus membatasi jenis konten apa saja yang bisa ditonton atau dimainkan oleh anak berusia remaja.

Semua batasan ini tentu harus dibahas bersama-sama dan disesuaikan dengan usia anak. Jika aturan ini dilanggar, orang tua bisa menetapkan konsekuensi yang jelas dan sesuai.

3. Aturan batasan waktu layar yang cerdas

Sebagai orang tua tentu tidak ingin jika anaknya sampai kecanduan gadget. Dengan mengatur batasan waktu layar atau screentime, orang tua bisa menjaga kesehatan mental dan fisik anak serta membantu mereka mengembangkan kontrol diri dan manajemen waktu.

Untuk membatasi waktu layar dan jenis konten yang ditonton, orang tua bisa menggunakan fitur Pelibatan Keluarga atau Family Pairing. Fitur ini akan menghubungkan akun TikTok orang tua dengan akun anak dan memudahkan orang tua untuk mengontrol keamanan di akun anak.

4. Bicara tentang perundungan siber ayau cyber bullying

Harus ada jalur komunikasi yang jelas antara orang tua dan anak agar anak bisa curhat jika mengalami perundungan siber. Jika orang tua merasa anak remajanya menjadi pelaku perundungan siber, dorong mereka untuk berbicara jujur dan bertanggung jawab atas perilakunya.

TikTok juga memiliki fitur yang bisa melindungi pengguna dari perundungan siber yaitu dengan mengontrol bagian komentar. Saat ini, hanya pengguna berusia 16 tahun ke atas yang bisa menerima komentar di bawah kontennya.

Komentar ini bisa diatur apakah bisa diberikan oleh semua pengguna, hanya pengikutnya saja, atau tidak sama sekali. Pengguna juga bisa memblokir kata-kata tertentu agar tidak muncul dalam kolom komentar.

5. Bicara tentang privasi

Orang tua harus mengajari anak untuk selalu berhati-hati dengan konten dan informasi yang mereka bagikan di media sosial. Anak-anak perlu mengerti tentang apa itu jejak digital dan ancaman keamanan siber seperti peretasan dan rekayasa sosial yang bisa dilakukan jika mereka berbagi informasi pribadi secara berlebihan.

Orang tua bisa menjaga privasi anak dengan lebih ketat dengan membuat akun TikTok mereka menjadi private lewat pengaturan keamanan. Saat ini akun milik pengguna berusia 14 dan 15 tahun akan diubah menjadi private secara otomatis.

6. Bicara tentang kontak dan konten berisiko

Konten dan kontak yang berisiko selalu menghantui media sosial. Anak harus mengerti bahwa mereka akan menemui konten yang tidak patut untuk anak remaja dan orang asing yang tidak dikenal.

Orang tua harus secara proaktif berbicara dengan anak tentang risiko menerima permohonan berteman dari orang yang tidak dikenal. Anak juga harus diingatkan risiko menemui orang tidak dikenal di dunia nyata.

Jika menemukan konten dan pengguna yang melanggar paduan komunitas, TikTok menganjurkan orang tua dan pengguna untuk langsung melaporkannya.

7. Bicara tentang sexting

Anak usia remaja mungkin tidak memahami bahaya membagikan konten yang intim atau vulgar. Sudah menjadi tugas orang tua untuk menjelaskan kepada anak bahwa membagikan konten seperti ini memiliki konsekuensi yang serius dan bisa berjangka panjang.

Agar anak tidak membagi atau menerima konten vulgar di TikTok, orang tua bisa membantu dengan mengatur preferensi pesan langsung atau DM. Saat ini hanya pengguna TikTok berusia 16 tahun ke atas yang bisa menggunakan fitur DM.

Jika menemukan pengikut atau akun yang mencurigakan, anak bisa memblokir akun tersebut agar tidak bisa lagi berinteraksi dengan mereka. TikTok juga tidak mengizinkan pengiriman foto lewat DM untuk mencegah eksploitasi seksual.

8. Bicara tentang misinformasi

Misinformasi atau hoaks menyebar dengan sangat cepat di media sosial. Orang tua harus mengajarkan anak untuk berpikir kritis saat melihat konten yang viral di media sosial, misalnya dengan mencari sumber informasi.

TikTok memiliki rangkaian video 'Be Informed' yang bisa digunakan orang tua dan anak untuk berpikir kritis saat mengkonsumsi informasi di media sosial dan platform digital lainnya.

9. Terhubung dengan jaringan pendukung

Anak harus memiliki jaringnan pendukung dan perlindungan yang bisa diandalkan saat menggunakan media sosial. Tidak hanya dari orang tua tapi juga anggota keluarga yang lain, teman dan guru di sekolah.

Jika anak mengikuti akun atau memiliki pengikut yang membuat mereka gelisah, mereka bisa berhenti mengikuti atau memblokir akun yang dimaksud.

10. Membuat video bersama

Salah satu cara termudah untuk terlibat dengan kehidupan anak di media sosial adalah dengan membuat konten seru bersama-sama. Dengan ini, orang tua jadi mengerti cara kerja aplikasi tersebut sekaligus mengajarkan anak tentang konten apa yang pantas dan tidak pantas untuk dibuat.

TikTok memiliki beberapa fitur yang memungkinkan pengguna untuk membuat video bersama pengguna lain, seperti Duet dan Stitch yang tersedia untuk pengguna di atas 16 tahun.

Anak juga memiliki kontrol untuk memilih siapa yang bisa membuat video duet dengan mereka atau memberikan reaksi atas konten mereka. (inilah.com)