Terjaring Operasi, Pengamen Suami Istri Ini 'Konser' Lagu Berjudul Dampak Corona

Terjaring Operasi, Pengamen Suami Istri Ini 'Konser' Lagu Berjudul Dampak Corona
Foto: Reza Zurifwan



INILAH, Megamendung - Kedapatan tidak mengenakan masker, Rafli Apriyanto dan Aminah terjaring operasi yustisi di Jalan Raya Puncak. Sehari-hari sepasang suami-istri warga Kampung Batu Gede Ciapus itu menjadi pengamen. 

Usai diamankan, mereka yang berniat mengamen di Pasar Cisarua itu mendapatkan sanksi menyanyi menghibur para petugas Satgas Penanganan Covid-19. Rafli mengaku tidak memakai masker karena hanya memiliki satu buah masker yang sedang dicuci. Sedangkan, untuk membeli lagi tidak memiliki uang karena lebih mementingkan keperluan hidup lima anaknya.

"Saya menerima dengan ikhlas karena hari ini diberikan sanksi menyanyi menghibur petugas, karena setelah itu mendapatkan masker secara gratis. Jujur saya cuma punya satu buah masker yang saat ini sedang dicuci sedangkan untuk membeli kami lebih mementingkan keperluan makan anak-anak," kata Rafli kepada wartawan, Jumat (12/2/2021).


Dia menuturkan, walaupun hidup semakin susah karena juga ikut terdampak Covid-19 dia mengaku tetap semangat mencari nafkah keliling pasar bersama sang istri yang setia mendampingi.

"Alhamdulillah istri terus memberikan semangat bahkan ikut mengamen demi membiayai sekolah anak-anak. Walaupun pendapatan per hari berkurang setengahnya dari Rp120 ribu menjadi Rp60 ribu, kami tetap bercita-cita anak-anak bisa menempuh jenjang pendidikan secara maksimal karena kami ingin anak-anak tidak mengikuti jejak kami sebagai pengamen," sambungnya.

Rafli mengaku, dampak pandemi Covid-19 ini fia dan istri menciptakan lagu agar tetap semangat menjalani hidup. Lagu berkisah kehidupan saat ini pun lantas diberi judul Dampak Corona.

"Selama pandemi Covid-19 ini saya sempatkan ciptakan lagu berjudul Dampak Corona yang liriknya semenjak ada virus corona rata-rata banyak orang mengeluh, semenjak ada virus corona ekonomi makin sulit hingga banyak karyawan yang di PHK, supir angkot sulit setoran, tukang ojek macet cicilan, tukang dagang pusing kepala memutar-mutar modalnya, apalagi buruh harian yang terus menimbun hutang hingga para pengamen pun dimanyunan," tuturnya.

Disinggung menganai bantuan sosial, sebagai keluarga terdampak dia mengaku sudah dua kali mendapatkan bantuan langsung tunai (BLT) dari dana pemerintahan desa setempat.

"Sejak awal pandemi Covid-19 Maret 2020 lalu, kami baru dua kali dapat BLT dari desa. Alhamdulillah," pungkasnya. (Reza Zurifwan)