Capaian Istimewa Kinerja Kementerian Desa

Capaian Istimewa Kinerja Kementerian Desa



KINERJA Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi sepanjang tahun 2018 menunjukkan hasil sangat memuaskan. Di tahun 2018, Kemendesa PDTT berhasil melampaui target RPJMN dengan capaian berhasil mengentaskan 6.518 Desa Tertinggal menjadi Desa Berkembang dan 2.665 Desa Berkembang menjadi Desa Mandiri.

Kemendesa PDTT terus melakukan berbagai dorongan dalam mengakselerasi program-program yang ada. Hasilnya, kinerja Kemendesa PDTT sepanjang tahun 2018 benar-benar mampu membuahkan berbagai keberhasilan.

Di tahun 2018, Kemendesa PDTT berhasil melampaui target RPJMN dengan capaian berhasil mengentaskan 6.518 Desa Tertinggal menjadi Desa Berkembang dan 2.665 Desa Berkembang menjadi Desa Mandiri.

Tak hanya itu, selama 4 tahun terakhir, Kemendesa PDTT juga berhasil membangun 191.600 km jalan desa dari dana desa di 74.957 desa. Hebatnya, pelaksanaan pembangunan jalan desa tersebut rata-rata dilakukan melalui program Padat Karya Tunai yang secara otomatis memberikan penghasilan tambahan kepada masyarakat desa.

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo menyatakan, pembangunan infrastruktur dari dana desa telah memberikan pengaruh signifikan terhadap penurunan angka kemiskinan di desa. Tahun 2018, lanjutnya, kemiskinan di desa menurun 1,29 juta jiwa atau dua kali lipat lebih tinggi dari penurunan angka kemiskinan di kota yang berjumlah 500.000-an jiwa.

"Untuk pertama kali angka kemiskinan turun menjadi single digit menjadi 9,82%. Dan penurunannya di desa dua kali lipat lebih besar dari kota," ujarnya dalam keterangan resmi beberapa waktu lalu.

Eko mengatakan, dana desa juga memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan pendapatan per kapita masyarakat desa. Pasalnya, dalam empat tahun terakhir, pendapatan perkapita desa naik hampir 50% yakni dari dari Rp 572.000 menjadi Rp 804.000 perkapita per bulan.

"Kita juga berhasil membantu menurunkan angka stunting dari 37,2% menjadi 30,8%. Kalau kita bisa konsisten mempertahankan ini (penurunan stunting), dalam waktu sepuluh tahun Indonesia akan terbebas dari stunting," ungkapnya.

Eko menambahkan, sebanyak 85 persen masyarakat Indonesia puas dengan program dana desa. "Tingkat kepuasan masyarakat terhadap dana desa cukup tinggi. Kita lihat surveinya, bahwa tingkat kepuasan masyarakat terhadap dana desa 85 persen. Salah satu tertinggi di kabinet," ujarnya.

Ia mengungkapkan, dana desa sejak tahun 2015-2018 telah berhasil membangun sepanjang 191.600 Kilometer jalan desa. Jika dipukul rata, maka setiap desa telah berhasil membangun sepanjang 2,5 Kilometer jalan desa per empat tahun terakhir, atau sepanjang 625 Meter per tahunnya.

"191 ribu kilometer jalan desa kalau dibagi rata ke seluruh desa yang jumlahnya 74.957 desa, rata-rata desa membangun 2,5 Kilometer per empat tahun. Jadi per tahun kurang lebih 625 Meter. Jadi orang desa membangun 625 Meter itu gampang sebenarnya," ujarnya.

Tak hanya jalan desa, menurutnya, dana desa juga telah membangun ribuan infrastruktur dasar lainnya seperti MCK, Polindes, Posyandu, Jembatan, irigasi, PAUD, dan sebagainya. Menurutnya, tata kelola dana desa setiap tahun juga terus mengalami peningkatan.

"Sejak tahun 2015 dana desa (jumlah) naik terus. Tahun 2015 penyerapannya 82 persen, tahun 2016 naik menjadi 97 persen, kemudian 2018 naik lagi menjadi 98 persen, dan tahun lalu penyerapannya 99 persen. Ini menunjukkan bahwa tata kelolanya baik," ujarnya.

Meski demikian ia mengatakan, proses pelaksanaan dana desa dilakukan dengan prosedur cukup ketat. Untuk pencairan misalnya, disalurkan melalui tiga tahap dengan ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi."Kan (pencairan dana desa) dilakukan tiga tahap. Kalau sudah cair tahap pertama, tahapan berikutnya tidak akan cair kalau tahapan sebelumnya belum dilaporkan," ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, pengawasan dana desa juga dilakukan ketat, dengan melibatkan pihak kepolisian, kejaksaan, lembaga/kementerian terkait, dan Satgas dana desa. Selain itu, menurutnya, masyarakat juga antusias turut mengawasi dana desa. "Nah media massa ini paling penting. Karena informasi-informasi dari media ini, masyarakat jadi tahu dana desa dan secra otomatis mereka ikut mengawasi," ujarnya.