Warga Mulai Abai dan Sistem Lemah Picu Kota Bogor Zona Merah

Warga Mulai Abai dan Sistem Lemah Picu Kota Bogor Zona Merah
Foto: Rizki Mauludi



INILAH, Bogor - Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto menyebut, lemahnya sistem dan warga yang mulai abai menjalani masa pandemi Covid-19 menjadi penyebab Kota Bogor masuk ke dalam zona merah. 

Satuan Tugas (Satgas) Nasional Covid-19 baru saja menetapkan Kota Bogor sebagai zona merah. Penyebabnya, karena tingginya rata-rata penularan Covid-19 yang menyentuh 100 kasus per hari dan kini total hampir menembus 10 ribu kasus.

"Hal ini terjadi disebabkan lemahnya sistem dan warga yang mulai abai. Sistemnya lemah, sistem tes, telusur dan tindak lemah, kami akan kuatkan lagi. Penulusuran kontak erat dan warga juga harus diingatkan lagi. Tapi mobilitas warga harus dikurangi," kata Bima kepada wartawan usai menggelar rapat Satgas Covid-19, Rabu (3/2/2021).


Dia melanjutkan, kasus harian Covid-19 di Kota Bogor belakangan ini mengalami penambahan signifikan. Sehingga berdasarkan laporan terjadi penambahan 270 pasien sembuh dan 150 pasien positif baru per Selasa (2/2/2021).

"Besok akan konfrensi pers, sekarang masih dirumuskan. Tapi, tadi sudah disepakati kami akan lakukan beberapa langkah signifikan untuk mengurangi mobilitas warga, ya tapi detailnya besok Kamis (4/2/2021) ya,"  tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor Sri Nowo Retno mengatakan laporan harian hingga Selasa (2/2/2021) dilaporkan penambahan kasus di atas rata-rata 100 kasus per hari. Untuk kasus pasien sembuh atau lepas dari perawatan dilaporkan mengalami lonjakan dengan angka 270 kasus. Demikian, angka kasus positif baru juga bertambah 150 kasus, dan tiga pasien positif dilaporkan meninggal.

"Angka tren sembuh naik dari rata-rata 100 per hari. Tetapi angka positif baru juga masih di angka rata-rata 100 kasus per hari," ungkap Retno yang juga juru bicara Satgas Covid-19 Kota Bogor.

Dia menerangkan, dengan penambahan kasus itu jumlah akumulatif kasus di Kota Bogor mencapai 8.765 kasus. Dengan rincian, sebanyak 7.038 kasus pasien telah dinyatakan sembuh, 1.566 kasus pasien masih dalam perawatan dan meninggal dunia 161 orang. (Rizki Mauludi)