Demokrat Duga Ada Jabatan Publik yang Disalahgunakan

Demokrat Duga Ada Jabatan Publik yang Disalahgunakan
istimewa



INILAH, Bandung - Partai Demokrat kini dirundung polemik kekuasaan. Wasekjen DPP Partai Demokrat Jovan Latuconsina mengatakan, upaya pengambilalihan paksa kekuasaan dalam tubuh Partai Demokrat patut menjadi perhatian pemerintah maupun masyarakat sipil.

“Kasus ini bukan semata-mata persoalan internal partai. Ini masalah integritas, karena menyangkut suatu jabatan publik yang diamanahkan rakyat tetapi ada dugaan disalahgunakan,” kata Jovan dalam rilis yang diterima, Rabu (3/1/2021).

Dia menuturkan, upaya pengambilalihan paksa ini bukan isapan jempol belaka. 


“Kita punya berita acara perkara berdasakan laporan lebih dari delapan orang kader kita, hasil dari pertemuan mereka dengan sejumlah mantan kader, yang ternyata di situ juga dihadiri KSP (Spala Staf Presiden) Moeldoko,” ujarnya.

Menurutnya, terhadap oknum kader internal itu akan diproses sesuai konstitusi Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) partai. Namun, terkait nama tokoh publik yang dikenal dekat dengan Presiden Joko Widodo itu dia Jovan mengingatkan ini yang harus diklarifikasi orang nomor satu di Indonesia. 

“Dalam pembicaraan dengan kader kami, terucap bahwa KSP Moeldoko sudah mendapat restu dari Presiden,” tambahnya.

Untuk itu, Jovan menyebutkan Ketum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengirimkan surat kepada Presiden Joko Widodo. 

"AHY bersurat kepada Presiden, untuk mendapatkan klarifikasi, karena kita yakin ini hanya pencatutan nama. Langkah ini dilakukan karena kader di daerah tidak terima kalau kepemimpinan yang sah, hasil aklamasi Kongres V Partai Demokrat diobrak-abrik oleh oknum kader dan mantan kader, bahkan melibatkan pihak eksternal yang ada di lingkar kekuasaan," tegasnya.

“Bukanlah sifat seorang ksatria, jika hanya mau mengambil jalan pintas untuk mencapai keinginannya,” tambah Jovan yang juga lulusan Sekolah Staf dan Komando di Nanjing Army Command College Tiongkok itu.

Jovan menyebutkan, menanggapi kasus tersebut dengan bijak AHY bilang apapun kesalahannya KSP Moeldoko itu seniornya di almamater.

"AHY dan Moeldoko memang sama-sama lulusan terbaik Akademi Militer. Mereka pun sama-sama meraih penghargaan Bintang Adhi Makayasa. Dalam situasi seperti ini, Ketum AHY tetap mengedepankan kehormatan dan jiwa ksatria sebagai landasan dasar. He is an officer and a gentleman," jelasnya.