Pelaku Beberkan Penganiayaan Berujung Kematian di Dayeuhkolot

Pelaku Beberkan Penganiayaan Berujung Kematian di Dayeuhkolot



INILAH,Bandung - Karena dianggap selalu meresahkan warga, AS (29), seorang pria di Kecamatan Dayeuhkolot Kabupaten Bandung tewas meregang nyawa di tangan empat orang teman satu kampungnya. Keempat orang tersangka nekat menganiaya karena sakit hati atas perlakuan korban selama ini kepada mereka.

“Banyak orang di kampung yang kesal kepada korban. Dia sering memalak, setiap orang dia minta Rp5.000, Kalau nggak dikasih dia tendang. Para pedagang juga resah karena dia sering ngambil dagangan semaunya dia dan nggak bayar. Perlakuannya kepada kami juga seenaknya saja, sering nendang, memukul dan membully," kata AHL salah seorang pelaku di Mapolresta Bandung, Soreang, (1/2/2021).

AHL mengatakan, sering melihat korban di sekitar tempat pemancingan. Sebelum kejadian, AHL mengaku mendapatkan laporan dari seorang warga yang dagangannya diambil oleh korban. Kemudian ia bertemu dengan pelaku lain, hingga akhirnya kejadian penganiayaan tersebut terjadi.


“Jadi masyarakat kesal karena meresahkan terus. Termasuk warga yang sedang mancing juga kesal. Soalnya sering dimintai uang. Kalau nggak ngasih ditendang. Bahkan pernah ada pemancing yang sampai jatuh ke kolam ditendang sama dia," ujarnya.

Dengan latar belakang dendam yang sama, kata AHL, ia mengajak tiga orang pelaku lainnya untuk memberi pelajaran kepada korban. Keempatnya merencanakan penganiayaan dan menyiapkan beberapa alat yang dipakai untuk mengeroyok dan melukai korban.

Kapolresta Bandung, Kombes Hendra Kurniawan juga membenarkan bahwa keempat pelaku yaitu TJ, SMR, AHL dan satu pelaku masih di bawah umur, mendapat perlakuan tidak baik dari korban. Kata dia, ada yang dipukuli, ada yang dimintai uang dan sebagainya. Oleh karena itu, motivasi yang melatarbelakangi pelaku untuk menganiaya korban adalah karena dendam.

"Pada  24 Januari mereka berkumpul di suatu tempat pemancingan, merencanakan untuk memberi pelajaran kepada korban. Mereka semua sepakat menunggu korban yang akan melintas di dekat pemancingan tersebut, kemudian melakukan tindakan penganiayaan,” ujarnya.

Selain penganiayaan, pihaknya juga mengkategorikan pembunuhan berencana. Karena sebelum kejadian, para pelaku terlebih dahulu menyiapkan alat-alat antara lain, senjata tajam, batu maupun kayu.

“Kemudian pada saat korban lewat ketempat tersebut, dilakukan penganiayaan kurang lebih ada sekitar 50 lebih tusukan ataupun luka berdasarkan hasil autopsi sehingga menyebabkan kematian,” katanya.

Setelah mengalami penganiayaan, polisi sempat membawa korban ke rumah sakit. Namun naas, karena banyak luka membuat korban kehabisan darah dan meninggal setelah kurang lebih dua hari menjalani perawatan.

“Pelaku punya perannya masing-masing, ada peran menusuk, memukul dan juga melukai,”  ujarnya.

Akibat perbuatannya, pelaku dikenai pasal 170 tentang pengeroyokan secara bersama-sama dan pasal 340 dengan ancaman pidana selama 20 tahun atau seumur hidup. 

“Satu orang tersangka dibawah umur, jadi nanti perlakuannya akan beda,” katanya.(rd dani r nugraha).