Sebanyak 222 Desa di Sulawesi Tenggara Berhasil Naik Kelas

Sebanyak 222 Desa di Sulawesi Tenggara Berhasil Naik Kelas



INILAH, Kendari - Program dana desa berhasil mengubah status 222 desa tertinggal di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menjadi desa berkembang selama periode tahun 2015-2017. Perubahan status desa menjadi lebih baik merupakan salah satu prioritas utama yang dikerjakan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT).
 
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PTT) Eko Putro Sandjojo mengatakan, penggunaan dana desa selama empat tahun ini sangat baik bahkan ribuan kilometer jalan desa telah terbangun di Sultra.
 
"Belum lagi (pembangunan) sarana air bersih, Polindes, dan sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Kita melihat hasilnya, di Sulawesi Tenggara jumlah desa tertinggal berkurang cukup banyak. Desa berkembang yang baru juga cukup banyak," kata Eko pada Sosialisasi Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi No 16 Tahun 2018 tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2019 di Kendari, Jumat (22/2).
 
Dalam empat tahun terakhir, kata Eko, dana desa telah melakukan pembangunan infrastruktur dan sarana sosial dasar desa secara masif. Pembangunan tersebut telah memberikan pengaruh yang besar terhadap kualitas hidup masyarakat perdesaan.
 
Penurunan angka kemiskinan yang sangat besar menjadi salah satu bukti nyata dari dampak yang telah dana desa berikan. Untuk pertama kalinya angka kemiskinan di Indonesia turun menjadi single digit yaitu 9,66 persen pada akhir tahun 2018 kemarin.
 
"Dan penurunan angka kemiskinan di desa jauh lebih besar daripada penurunan angka kemiskinan di kota," kata Eko.
 
Sedangkan untuk alokasi dana desa tahun 2019, lanjut Eko, pemerintah akan memprioritaskan pembangunan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat desa. Untuk itu, dia meminta setiap desa agar memaksimalkan masing-masing Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) miliknya. Sebab, menurutnya, BUMDes akan sangat membantu desa menjadi mandiri secara ekonomi.
 
"Kita sudah banyak kerjasama dengan BUMN dan swasta terkait BUMDes. Sudah lebih dari 40 ribu BUMDes yang terbentuk. Dan sudah banyak yang mendapatkan penghasilan lebih dari Rp1 Miliar per tahun. Kalau sudah bisa menghasilkan pendapatan hingga miliaran, dana desa hanya akan menjadi stimulan," ujarnya.
 
Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Provinsi Sulawesi Tenggara, Tasman Taewa mengungkapkan, dana desa sejak tahun 2015-2018 di Sulawesi Tenggara berjumlah Rp4,5 Triliun. Anggaran tersebut telah membangun sepanjang 1,2 juta meter jalan desa, 1,5 ribu meter jembatan, 51 unit pasar desa, dan ragam infrastruktur desa lainnya.
 
"Sejak ada dana desa, sudah ada kemajuan dan nampak dirasakan oleh seluruh desa. Seluruh pendamping desa telah bekerja maksimal dalam mengawal pemanfaatan dana desa, sehingga bisa dikelola secara benar dan tepat sasaran untuk kesejahteraan masyarakat Sulawesi Tenggara," ujarnya.
 
Menurutnya, dana desa telah memberikan pengaruh signifikan terhadap kemajuan desa. Ia mencatat, dalam periode 2015-2017 desa sangat tertinggal di Sulawesi Tenggara berkurang dari 228 menjadi 160 desa. Tak hanya itu, desa berkembang juga bertambah 222 desa. Dari 209 desa berkembang menjadi 431 desa berkembang.
 
"Dari seluruh jumlah dana desa yang diterima, dengan kerjasama seluruh masyarakat, perangkat desa, dan pendamping desa, dana desa telah terbukti meningkatkan pembangunan di Sulawesi Tenggara," ujarnya.