Akademisi: Teknologi Pangan Dapat Tingkatkan Nilai Tambah Produk

Akademisi: Teknologi Pangan Dapat Tingkatkan Nilai Tambah Produk
Akademisi dari Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Purwokerto Kavadya Syska. (antara)



INILAH, Bandung - Akademisi dari Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Purwokerto Kavadya Syska mengingatkan penerapan teknologi pangan dapat berkontribusi pada peningkatan nilai tambah produk yang dihasilkan.

"Dengan menggunakan teknologi yang tepat guna maka akan dapat memperoleh manfaat semaksimal mungkin sekaligus meningkatkan nilai tambah dari bahan pangan tersebut," katanya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Sabtu.

Koordinator Program Studi Teknologi Pangan UNU Purwokerto tersebut mencontohkan hasil panen bawang atau tomat yang berlimpah dapat diolah menjadi bawang goreng siap saji dan saus tomat.


"Selain mencegah agar hasil panen yang melimpah terbuang percuma, implementasi teknologi pangan juga dapat meningkatkan nilai ekonomi dari produk tersebut," katanya.

Dengan berbasis teknologi pangan, kata dia, maka hasil akhir produk akan memiliki peningkatan nilai tambah sehingga berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan petani.

"Bukan hanya petani, tapi juga akan berdampak pada pendapatan para produsen dan juga pekerja lain yang ikut berperan di dalamnya," kata Kavadya.

Selain itu, tambah dia, teknologi pangan juga dapat merangsang tumbuhnya perusahaan-perusahaan rintisan yang didominasi oleh kalangan milenial dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komputasi.

Dia juga mengatakan penerapan teknologi pangan dapat mendukung program ketahanan pangan terutama pada masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini.

"Dengan adanya teknologi dan inovasi di bidang pangan maka ketersediaan pangan akan tetap terjaga di tengah pandemi Covid-19," katanya.

Dia mencontohkan sumber daya lokal seperti sagu, kacang hijau, singkong, pisang, ubi jalar, tempe dan lain sebagainya dapat diolah untuk membuat bahan pangan darurat.

"Misalkan ubi jalar yang diolah menjadi produk pangan semi basah atau intermediate moisture food, lalu kue kering kacang hijau, nasi ayam kaleng, mie siap konsumsi berbahan dasar tepung komposit dan banana bar," katanya.

Dia mengatakan selain bisa lebih tahan lama pengolahan produk pangan berbasis teknologi juga dapat tetap menjaga kandungan nutrisi yang ada di dalamnya.

"Misalkan banana bar yang diolah dari pisang, merupakan salah satu jenis produk pangan darurat yang telah dikomersialisasikan. Produk ini juga cocok untuk dikembangkan di Indonesia, misalnya dengan menggunakan bahan baku lokal berupa pisang dan tepung kedelai," katanya.

Tepung kedelai, kata dia, berfungsi sebagai sumber protein, selain itu kedelai juga mengandung komposisi asam amino yang lengkap.

"Sementara itu pisang berperan sebagai sumber karbohidrat, sumber cita rasa dan rasa manis yang khas sehingga produk berpotensi untuk digemari masyarakat," katanya.

Hal itu, kata dia, membuktikan bahwa teknologi pangan sangat penting untuk terus dikembangkan dan diterapkan. (antara)