Inilah Jawaban Kementerian Sosial Terhadap Kritik dan Nyinyiran Aksi Drama Blusukan Risma

Inilah Jawaban Kementerian Sosial Terhadap Kritik dan Nyinyiran Aksi Drama Blusukan Risma



INILAH, Jakarta,- Seakan ingin menjawab berbagai cibiran yang dialamatkan kepada Menteri Sosial Tri Rismaharini, Kementerian Sosial akhirnya sampaikan hal ini. Tudingan aksi drama, cibiran dan kritikan terhadap aksi blusukan Menteri Sosial anyar, Tri Rismaharini terus mengalir.

Namun Risma sapaan akrab Tri Rismaharini seakan tak menggubris berbagai pernyataan yang mengkritisinya. 

Sebaliknya, Kementerian Sosial melalui Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial menyampaikan hasil blusukan Risma dalam beberapa hari terakhir.


Sedikitnya, ada 23 orang hasil blusukan Risma yang kini berada dalam pengawasan Kemensos. Saat ini ke-23 orang yang kebanyakan bekerja sebagai pemulung tersebut ditempatkan di Balai Kementerian Sosial.

Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kemensos, Harry Hikmat mengungkapkan, sebanyak 23 orang yang ditemukan dalam penjangkauan selama Menteri Sosial Tri Rismaharini "blusukan" di wilayah Jakarta saat ini ditempatkan di balai Kementerian Sosial.

"Mereka ini penerima manfaat mendapat program ATENSI di Balai Karya 'Pangudi Luhur' Bekasi," kata Harry, Kamis 7 Januari 2021

Harry mengatakan, dua diantaranya dirujuk ke Balai Lansia "Budhi Dharma" Bekasi karena perlu perawatan sosial secara intensif.

Sebanyak 23 penerima manfaat tersebut terdiri dari delapan perempuan dan 15 laki-laki. Rata-rata mereka bermata pencaharian sebagai pemulung.

Mereka juga tidak memiliki tempat tinggal tetap di Jakarta. Ada yang tinggal di kolong jembatan, di emperan toko, di gerobak sampah, di pasar di lapak atau di pemukiman kumuh. 

Mereka ditemukan di beberapa lokasi seperti di sekitar Pegangsaan, Pasar Baru, Thamrin, Sudirman, Manggarai. Ada juga rujukan dari Dinas Sosial Subang dan DKI Jakarta.

Terdapat dua orang penerima manfaat usia anak yang salah satunya tidak bersekolah. Oleh karena itu Mensos meminta keluarganya untuk tinggal di Balai Karya "Pangudi Luhur" Bekasi dan anak yang sempat putus sekolah diminta untuk melanjutkan sekolah di sekitar Balai.

Dikatakan Harry, di Balai Karya "Pangudi Luhur" Bekasi, penerima manfaat dewasa seperti pemulung mulai diberikan keterampilan berwirausaha seperti budi daya ikan lele.

Mereka juga diberikan keterampilan membuat pupuk kompos, budi daya tanaman hidroponik dan keterampilan lainnya yang dapat memberikan penghasilan bagi mereka.

"Suatu terobosan penting atas inisiatif Menteri Sosial untuk pembuatan kompos dan daur ulang sampah non organik, telah ditawarkan kepada kementerian untuk diambil sampahnya," ujarnya.

Dalam pelaksanaan rehabilitasi sosial dengan memberikan keterampilan wirausaha bagi 23 penerima manfaat, Kemensos menggandeng Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) di Provinsi DKI Jakarta dan Kota Bekasi.

Kemensos juga membuka akses ke program-program Kementerian/Lembaga lainnya untuk memenuhi hak dasar mereka. Mulai dari hak mendapatkan identitas kependudukan, hak kesehatan hingga pendidikan.