Pandemi Covid-19, Momentum Setop Kekerasan pada Perempuan dan Anak

Pandemi Covid-19, Momentum Setop Kekerasan pada Perempuan dan Anak
Foto: Zainulmukhtar



INILAH, Garut - Dari berbagai dampak terjadi akibat pandemi Covid-19, kaum perempuan relatif paling terdampak dibandingkan laki-laki. Padahal, perempuan memiliki posisi penting dalam menghadapi krisis akibat pandemi Covid-19 tersebut. 

Akibat covid-19, pemutusan hubungan kerja (PHK) terdahap karyawan terjadi di mana-mana. Kemiskinan meningkat. Semua anggota keluarga mesti tinggal di rumah, atau lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. Para ibu mendadak mesti menjadi guru mengajari anak belajar di rumah karena anak tak bisa belajar dengan tatap muka di sekolah. Risiko kekerasan dalam rumah tangga pun meningkat. Perempuan mengalami stress luar biasa. Terlebih, perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga. Baik yang masih tetap bekerja maupun yang terkena PHK.

Padahal, dalam kondisi normal sebelum pandemi Covid-19 pun, perempuan selalu berhadapan dengan kemungkinan pelecehan dan kekerasan. 


Dengan kondisi seperti itu, seyogyanya kaum perempuan mendapatkan perhatian lebih agar bisa bertahan menghadapi berbagai dampak perubahan akibat pandemi Covid-19 yang entah kapan akan berakhir. Saatnya bagi kaum pria/suami berbagi fungsi dan peran domestiknya dalam keluarga, khususnya berkaitan pengasuhan anak. Jangan biarkan semua beban domestik ditanggungkan kepada perempuan. Suami, isteri, ayah, dan ibu, semuanya memunyai peran setara dalam mengasuh anak.

Hal itu mengemuka pada webinar Pandemi Covid-19 dan Perlindungan terhadap Perempuan digelar BBC Media Action kerja sama Dewan Pers pada 27 Novemer 2020.

Menurut Peneliti dari Universitas Padjajaran (Unpad) Binahayati Rusyidi, persoalan dihadapi perempuan bertambah dengan kebijakan program pemerintah lebih terfokus pada bagaimana mengatasi daerah yang langsung terdampak Covid-19. Hal itu membuat isu kekerasan terhadap perempuan kurang mendapatkan perhatian karena berkompetisi dengan isu lebih besar, semisal isu pemotongan alokasi dana pembangunan. 

"Covid-19 bagi saya merupakan titik poin untuk memperhatikan (isu) kekerasan pada perempuan. Dampak Covid-19 semakin memarjinalkan perempuan dalam masyarakat," ujar pengajar pada Departemen Kesejahteraan Sosial FISIP Unpad itu.

Tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia juga dikemukakan Sekretaris Kemen PPPA Pribudiarta Nur Sitepu. 

Dia menyebutkan, kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan merupakan fenomena gunung es. Mengutip hasil survey Badan Pusat Statistik (BPS), satu dari dua perempuan di Indonesia mengalami kekerasan namun mereka tak mau melapor atau mengadukannya. Sehingga unit layanan penting mampu mendorong perempuan dan anak berani mengadu, dan upaya pencegahan menjadi jauh lebih penting. Kepedulian terhadap perempuan dan anak tak bisa dikerjakan parsial melainkan harus menjadi gerakan nasional melibatkan semua stake holder. 

Berkenaan peran pengasuhan dalam keluarga yang didominasi budaya patriakhi yang menempatkan laki-laki pada peran sentral, perlu didorong agar laki-laki turut berperan pada fungsi domestik keluarga, terutama pengasuhan anak. 

"Secara psikologis, anak membutuhkan peran ayah dan ibu. Perlu diajarkan (hal itu) pada anak sedini mungkin," ingatnya.

Sementara itu, Pemimpin Redaksi Femina Petty S Fatimah menambahkan, salah satu beban perempuan di masa pandemi ini yaitu mereka mesti mendadak menjadi guru. Padahal menjadi guru itu bukan sesuatu yang gampang. Di sisi lain, mereka juga ingin tahu bagaimana caranya mengatasi konflik yang makin besar gara-gara Covid-19. 

"Bukan hanya dalam keluarga, tetapi juga dengan ibu mertua dan pembantu," ujarnya.

Aktris dan Aktivis Perempuan Nova Eliza mengatakan, kasus kekerasan terhadap perempuan di masa pandemi meningkat sekitar 70 persen, dan persentase pekerja perempuan terkena PHK mencapai sekitar 30 persen. Sehingga perlu dicarikan solusi mengatasi persoalan tersebut. Perempuan membutuhkan sentuhan edukasi kesehatan mental/psikologis, terutama pada kelompok paling rentan terdampak pandemi.  

"Laki-laki agar aware (peduli) terhadap perempuan. Tidak melakukan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Harus diedukasi, dan perlu dibuatkan kurikulum sejak dini," katanya. (Zainulmukhtar)