Satgas PED Jabar Akan Luncurkan Recovery Center

Satgas PED Jabar Akan Luncurkan Recovery Center
istimewa



INILAH, Bandung-Satuan Tugas (Satgas) Pemulihan dan Transformasi Ekonomi Daerah Provinsi Jawa Barat (Jabar) bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) akan segera meluncurkan "Recovery Center" dengan alamat tpakdjabar.org sebagai wadah intermediasi antara dunia usaha dan lembaga keuangan yang ada di Jabar. 

“Rencananya akan diluncurkan pada 22 Desember 2020 nanti oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil,” ujar Wakil Koordinator Sub Divisi Jasa Keuangan Satgas Pemulihan dan Transformasi Ekonomi Daerah Provinsi Jabar, Zaenal Aripin, dalam rapat mingguan KPED, Minggu (13/12/2020). 

Zaenal menjelaskan, Recovery Center saat ini masih dalam bentuk situs web, tetapi juga akan diubah menjadi aplikasi android. Melalui web atau aplikasi ini, dunia usaha di Jabar akan bisa berdiskusi dan bertanya tentang berbagai masalah keuangan dan pelaksanaan kebijakan pemerintah dalam pemulihan ekonomi. 


Ketua OJK Jawa Barat Indarto Budiwitono mengungkapkan, recovery center ini akan menjadi forum intermediasi antara dunia usaha dengan lembaga keuangan perbankan. Ini dimaksudkan supaya dunia usaha bisa cepat mengakses produk-produk perbankan. 

Aulia Fadly dari OJK Jabar menjelaskan dalam recovery center dengan alamat tpakdjabar.org tersebut, nantinya para pengusaha Jabar bisa menanyakan produk layanan keuangan dan mengajukan kredit usaha rakyat (KUR) secara online. Juga ada Pojok UMKM yang akan menjadi display center produk-produk UMKM. 

“Bisa juga mempublikasikan kegiatan inklusi keuangan oleh pemda atau tim percepatan akses keuangan daerah Jabar. Juga sebagai sarana informasi bagi perbankan dalam menyampaikan produk-produk keuangannya,” ujar Aulia. 

Ketua Harian Satgas Pemulihan dan Transformasi Ekonomi Daerah Provinsi Jabar, Ipong Witono, mengapresiasi pembentukan recovery center kerjasama dengan OJK dan BI. Lembaga ini akan sangat membantu dunia usaha dalam mengakses informasi dan penerapan kebijakan pemulihan ekonomi nasional maupun daerah. 

“Berdasarkan survei yang kami lakukan, 30 persen pengusaha tidak mengetahui tentang program pemulihan ekonomi nasional maupun daerah. Dan juga tidak punya akses terhadap perbankan. Saat pandemi, para pengusaha menyampaikan aspirasi tentang perlunya relaksasi dan restrukturisasi kredit. Melalui Recovery Center ini diharapkan ketimpangan informasi itu tidak ada lagi,” ujar Ipong. 

Ipong mengungkapkan, Recovery Center ini tidak hanya untuk usaha mikro, kecil, dan menengah saja tapi juga semua bidang usaha. “Saya berharap semua bidang usaha memanfaatkan Recovery Center ini sehingga program pemulihan ekonomi nasional dan daerah bisa berjalan sesuai dengan harapan,” tambahnya. 

Dalam acara yang sama, Wakil Koordinator Sub Divisi Kajian Ekonomi Satgas Pemulihan dan Transformasi Ekonomi Daerah Provinsi Jabar, Yayan Satyakti, mengungkapkan optimismenya pada triwulan keempat bahwa ekonomi Jabar akan bisa tumbuh. Ini berdasarkan beberapa asumsi seperti penyaluran bantuan sosial yang akan meningkatkan daya beli masyarakat sebesar 10 persen, penyaluran dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN)-Pemulihan Ekonomi Daerah (PED) yang diperkirakan mencapai 97%-100%, serta tumbuhnya ekspor dari Jabar sebesar 60%-75%. 

“Kami optimis proyeksi pertumbuhan PDRB Jabar pada 2020 berada dalam rentang 1,5% hingga 4,10%. Itu dari skenario pesimis, moderat, dan optimis,” jelas Yayan. 

Menurut Yayan, krisis yang terjadi pada 1998 dan 2000 lebih berat daripada yang terjadi saat ini. “Oleh karena itu, krisis sekarang bisa lebih cepat pulih dengan syarakat pademi segera dipulihkan,” ujarnya. 

Optimisme serupa disampaikan Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jabar Taufik Saleh. Berdasarkan Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) kepada 500 perusahaan ternyata beberapa indikator usaha mulai membaik sehingga akan menunjang pemulihan ekonomi lebih cepat. 

“Di semua wilayah, tercatat penurunan giro bulanan. Ini mengindikasikan adanya pengeluaran atau belanja pemerintah yang bisa menggerakkan dunia usaha. Tabungan masyarakat juga melambat mengindikasikan meningkatnya belanja masyarakat. Kualitas kredit juga semakin membaik di beberapa daerah yang risiko kesehatannya rendah. Ini memunculkan optimisme bahwa ekonomi Jabar akan bertumbuh,” ujar Taufik.