Sikap Kami: Teladan Vaksin

Sikap Kami: Teladan Vaksin



BAGAIMANAKAH kita memandang vaksin Covid-19? Di tempat kita, juga di belahan dunia lainnya, dia dipandang dalam dua sisi yang kontras. Di satu sisi, dia diharapkan. Di sisi lain, dia diragukan.

Publik masih belum terlalu yakin dengan vaksin corona meski sudah mulai berdatangan di Indonesia. Kontroversi di sejumlah negara, termasuk juga penolakan dan pembatalan (pembelian) vaksin, membuat mereka khawatir.

Bahkan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sendiri belum merekomendasikan sepanjang belum ada izin edar darurat dari Badan POM. Tentu saja, ini juga terkait dengan kepastian untuk menjawab keraguan publik.


Sedikitnya ada tiga hal yang bisa membuat masyarakat dengan senang hati menjalani vaksinasi. Pertama, tentu saja soal keamanan (security). Kedua, bagi kalangan Muslim, soal kehalalannya. Ketiga, soal contoh teladan.

Soal pertama, itulah yang disebut IDI sebagai urusan Badan POM. Badan itulah yang bisa merekomendasikan apakah vaksin tersebut betul-betul aman dengan efek samping seminimal mungkin. Yang kedua, ini menjadi urusan dan tanggung jawab Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk menyatakan halal-tidaknya.

Yang ketiga, bukan urusan menyangkut teknis. Karena itu, yang berperan di sini bukanlah pihak-pihak yang terkait dengan teknis. Yang paling berperan adalah pemimpin dan publik-publik figur.

Publik butuh teladan. Publik butuh contoh. Itu yang diharapkan dari para pemimpin. Jika pemimpinnya saja tidak yakin, apatah lagi masyarakat bawahnya.

Perihal teladan ini, Ketua Satgas Covid-19 IDI, Zubairi Djoerban, merujuk satu nama: Ridwan Kamil. Gubernur Jawa Barat itu menjadi bagian dari relawan yang mengikuti uji klinis vaksin tahap ketiga di Bandung.

Lengkapnya, melalui cuitannya, Zubairi menulis pada pekan lalu: “Apa yang dilakukan Kang Emil dengan menjadi relawan vaksin itu contoh bagus. Sehingga menepis ketakutan masyarakat. Kalau perlu, para role model yang divaksin itu, membuat kisahnya di platform Youtube,” katanya.

Emil tidak sendirian sebenarnya. Ada juga Kapolda Jabar saat itu, Ijen Rudy Sufahriadi dan Pangdam Siliwangi, Mayjen Nugroho Budi Wiryanto. Diakui atau tidak, keikutsertaan mereka membuat relawan lain tambah yakin.

Peran itulah yang seharusnya dilakukan pemimpin-pemimpin di level nasional saat ini. Itulah yang bisa membuat masyarakat punya keyakinan atas sekuritasnya. Jangan ada pernyataan pemimpin A mau menjalani vaksinasi, tapi selalu pakai ujung sambung jika. Itu artinya contoh dan teladan bersyarat. Rakyat tak perlu yang begitu. Masyarakat, di tengah kegundahan, butuh penguat. Penguat itu adalah pemimpin mereka. (*)