Sikap Kami: Kuc4y

Sikap Kami: Kuc4y



SOLIDARITAS yang jadi dasar bangsa ini masih ada. Bahkan masih kuat. Hanya, kita saja yang tak menyadarinya. Tak percaya? Tanyalah Kuc4y.

Kuc4y itu hanyalah nama akun media sosial. Pada Rabu (9/12) lalu dia transfer sejumlah uang ke sebuah nomor rekening donasi untuk enam syuhada pengawal Habib Rizieq Shihab. Besarnya? Rp15 ribu. Tambah ongkos transfer Rp6.500. Total Rp21 ribu. Uang terakhir di rekeningnya.

“Bang inipun saya mohon maaf sekali hanya bisa sedikit sekali. Saya kebetulan memang sedang hanya ada segitu segitunya,” katanya.


Baru dua hari donasi itu dibuat Irvan Gani, pemilik akun @ghanieierfan, sudah terkumpul donasi lebih dari Rp1 miliar. “Tembus Rp1,2 M,” kata Irvan sekitar pukul 14.00 WIB kemarin. Sebagian, kemarin juga disalurkan ke keluarga korban.

Bagaimana mengumpulkan Rp1,2 miliar hanya dalam dua hari? Itulah kekuatan solidaritas. Percayalah, ini bukan sekadar soal FPI. Sebab, donatur pun datang bahkan dari mereka yang tak senang dengan gerakan FPI selama ini. Ini adalah solidaritas untuk kemanusian, untuk hak asasi manusia.

“Jujur, saya pendukung Jokowi dan sangat benci FPI. Tengah malam sampai subuh saya ngojol alhamdulillah dapat 50 ribu. Saya ikhlas setor semua yang saya dapat diberikan untuk 6 keluarga korban FPI…,” kata seorang donatur di antaranya.

“Bang, maaf aku hanya bisa nyumbang rp 15.000…drtd nunggu uang masuk, blm masuk masuk jg.. di rekening ada saldo 15.200.. takut gk sempat numbang, ya sdh sy kirim aja 15.000 nya Bang. Maaf bgt hri ini itu mampunya sy,” tulis seorang donatur.

Bahkan, seorang wanita, mengirimkan saldo terakhir di rekeningnya. Tak besar. Dia dan suaminya baru saja jadi pengangguran. “Tadinya minder mau kasih segitu, ternyata banyak juga yang kasih sedikit karena keikhlasannya dan berharap berpartisipasi untuk keluarga para syuhada,” katanya.

Apa makna semua itu? Indonesia dengan dasar kekuatannya masih ada. Kekuatan yang berlandaskan solidaritas, tepa selira, dan rasa sepenanggungan yang sama. Nilai-nilai yang diajarkan kakek-nenek kita dulu.

Jika ada yang salah dengan negeri ini, tidak sepatutnya menyalahkan warga. Warganya lebih kurang serupa seperti era kakek-nenek kita dulu. Yang salah adalah pemimpin yang mengelola negeri ini.

Maka, jika kita ingin mengembalikan Indonesia sebagaimana sedia kala, seharusnya para pemimpinnya yang harus memberi teladan. Yang mengajarkan kebaikan. Yang tidak memperuncing perbedaan, apalagi memanfaatkannya.

Indonesia, dengan segala sifat, sikap, dan budaya kebaikannya, masih berdiri. Sebaiknya, para pemimpinnya yang patut mengoreksi diri. (*)