Kisah Penjual Sate Maranggi, Bertahan di Tengah Serbuan Rumah Makan Besar

Kisah Penjual Sate Maranggi, Bertahan di Tengah Serbuan Rumah Makan Besar



INILAH, PUrwakarta,- Sate Maranggi, merupakan salah satu kuliner khas yang melegenda di Kabupaten Purwakarta. Bahkan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI juga menetapkan kuliner berbahan dasar daging sapi dan domba ini menjadi salah satu warisan budaya tak benda di Indonesia.

Karena menjadi kuliner khas, keberadaan penjualnya pun menjadi sangat mudah dijumpai di wilayah tersebut. Misalnya, di sepanjang Jalan Raya Cibungur, Plered, serta Jalan Raya Purwakarta-Wanayasa. Memang, untuk penyajian Sate Maranggi yang dijualnya hampir setiap daerah atau kecamatan di kabupaten tersebut memiliki cita rasa berbeda.

Seperti halnya Sate Maranggi Cibungur yang menggunakan sambal tomat sebagai pelengkap, atau Sate Maranggi Wanayasa yang menggunakan sambel oncom dan ketan bakar sebagai pengganti nasi. Meski begitu, bahan dasar berupa daging domba, rempah, serta gula aren selalu menjadi resep utama dalam pebuatan sate tersebut.

Abah Didi (73), mungkin menjadi salah satu dari sekian banyak penjual sate maranggi di sekitar Situ Wanayasa yang masih memegang citara rasa khas untuk dagangannya. Hingga kini, Abah tetap setia menjadi penjual kuliner berbahan daging sapi dan kambing tersebut. Meskipun dalam beberapa tahun terakhir banyak bermunculan rumah makan besar di kawasan wisata itu.

“Abah sudah menggeluti usaha dagang sate maranggi sejak 1980 lalu,” ujar ayah empat anak, warga RT 16/03, Desa/Kecamatan Wanayasa itu saat berbincang dengan INILAH di warungnya, Senin (23/11/2020).

Menurut Abah Didi, bermunculannya rumah makan besar di kawasan tersebut memang sedikit besarnya cukup berdampak bagi pedagang kecil seperti dirinya. Dirinya tak merasa khawatir kalau usahanya kalah bersaing dengan rumah makan atau kedai-kedai lain yang juga menyediakan sate maranggi. Sikap optimistis itu terpatri dalam benaknya. Mengingat, beban ekonomi keluarga tertumpu padanya.

“Setiap orang memiliki rizkinya masing-masing. Kalau di sini banyak penjual maranggi, saya rasa cukup bagus dalam menumbuhkan ekonomi masyarakat sekitar Situ Wanayasa. Abah mah percayakan saja semua pada Allah SWT. Yang penting, bersaing sehat saja untuk melayani pembeli,” seloroh dia.

Abah Didi mengaku, sudah mempunyai pelanggan setia yang hampir setiap akhir pekan menyambanginya. Para pelanggannya, kebanyakan warga luar daerah. Dirinya pun merasa yakin, jika pelanggan tak akan lari kemana. Asalkan penganan yang disajikan memiliki cita rasa yang terjaga.

Nilai plusnya, harga yang ditawarkan abah cukup murah agar pelanggan tersebut tetap setia. Para pelanggannya itu, tidak akan melihat sederhananya kedai yang dimilikinya. Kendati harus bersantap di pinggir jalan serta duduk di atas bangku, namun tidak mempengaruhi kenikmatan penganannya.

Dia menyebutkan, dalam sehari bisa menghabiskan antara 300-500 tusuk sate. Bahkan jika weekend bisa lebih banyak lagi. Satu tusuknya terbilang sangat murah, yakni Rp 2.000. Keuntungan yang didapatnya, dirasa lumayan untuk ukuran dapur tetap ngepul. (Asep Mulyana)