Penting! Pendampingan Psikologi bagi Pasien Covid-19

Penting! Pendampingan Psikologi bagi Pasien Covid-19
Ilustrasi/Zainulmukhtar



INILAH, Garut- Pandemi Covid-19 berdampak signifikan terhadap kehidupan masyarakat di berbagai sektor. Kementerian Kesehatan RI bahkan sempat menyebutkan Covid-19 dapat menimbulkan gangguan terhadap kesehatan jiwa.

Sebuah penelitian dipublikasikan jurnal Brain, Behavior and Immunity seperti dikutip dari laman The Guardian belum lama ini menunjukkan, lebih dari setengah pasien sembuh dari Covid-19 yang dirawat di rumah sakit mengalami gangguan kejiwaan dengan satu atau lebih jenis gangguan jiwa. Antara lain gangguan kecemasan, insomnia, depresi, stress pasca-trauma, dan gejala obsesif kompulsif. 

Karenanya, pendampingan psikologi menjadi penting dalam menangani kasus Covid-19. Bukan hanya bagi pasien terkonfirmasi positif Covid-19, melainkan juga terhadap anggota keluarga dan pihak lain yang terdampak.


Menurut Psikolog Oneng Nawaningrum, pendampingan psikologis sangat penting dalam penanganan Covid-19. Bahkan pada awal masa pandemi, pendampingan psikologis mendesak dibutuhkan bagi para tenaga kesehatan (nakes) yang bertugas menangani Covid-19. 

"Nakes bertugas itu tidak pulang, nginep di lokasi, diungsikan dari rumah sakit untuk melindungi keluarga mereka. Ini berat, terutama pada awal-awal (pandemi) Covid-19 muncul. Tanpa ada jaminan dan harapan situasi akan tertanggulangi. Kita temukan nakes drop sampai titik terendah. Terutama mereka yang ada di ICU atau MCU. Mereka betul-betul harus berjaga memakai APD sekian jam. Tak bisa makan dan minum," kata Oneng pada Covid-Talk on tvMu "Tantangan dan Peluang Pendampingan Psikologi bagi Korban Covid-19" belum lama ini.  

Karenanya, tutur Oneng, supporting system di rumah sakit harus dibangun. Sehingga bisa memberi waktu bagi para nakes mengambil napas. Saat pergantian jam tugas, bisa berefreshing menghirup udara segar, berjemur matahari pagi, dan melakukan senam bersama.

Dikatakan, umumnya, pasien mengalami shock/kaget ketika didiagnosa positif terpapar Covid-19, diikuti rasa cemas dan masalah lain. Hal itu juga bergantung berapa orang dari keluarganya terpapar Covid-19.

"Kalau satu (yang terkena), misal suami. Kemungkinan besar akan muncul kecemasan yang kadang bukan karena penyakitnya tetapi bagaimana mengenai nasib anak dan isterinya," ujar Oneng.

Karena itu, lanjutnya, perlu diberikan edukasi terhadap pasien maupun anggota keluarganya yang terdampak dari kasus tersebut.

Oneng, menyebutkan, kebanyakan pasien Covid-19 juga mengeluhkan rasa bosan karena berada di ruang isolasi sendirian dalam waktu cukup lama dengan kegiatan bisa dilakukan menjadi serba terbatas. Bergantung berat ringan kondisi pasien. 

"Kita bersyukur ada HP. Ini jadi pelarian utama (pasien Covid-19) di rumah sakit. Namun sebaiknya disarankan agar pasien melakukan aktivitas dalam ruangan. Senam atau bermain dengan sesama pasien. Itu sebenarnya dianjurkan. Sebab kalau tak melakukan kegiatan, selain koginitif maka badan juga bukannya fit, malah menjadi sakit-sakit," kata Oneng.

Menurutnya, pendampingan psikologi terhadap pasien mesti dilakukan sejak awal, ketika pasien masuk terkonfirmasi positif Covid-19. Sebab pada saat itu, kondisi pasien biasanya mengalami kecemasan tinggi. 

"Satu keluarga, misal ada lima orang (anggota keluarga). Hasil swab bersamaan. Ada yang carrier. Anak terpisah. Maka ibu mengalami kecemasan sangat tinggi," ujarnya.

Pasien diedukasi mulai cara penularan virus hingga diberikan motivasi untuk berpikir positif. Terus diberikan bimbingan dan arahan bersifat positif, termasuk dilakukan pendekatan spritual untuk meningkatkan aktivitas beribadahnya. 

"Itu kita tekankan saat memberikan pelayanan kepada pasien. Bagaimana pasien mengisi waktunya, jangan sampai kosong hanya untuk memikirkan kondisinya yang sakit. (Dengan cara itu) Alhamdulillah ! Angka kesembuhannya cukup tinggi," kata Sri.

Bagi nakes sendiri, kata Sri, mesti tertanam keyakinan bahwa mereka merupakan pilihan Alloh, dipilih untuk melayani pasien yang orang terkasihnya pun tak boleh melayani.

"(Pasien) Harus diberikan pendampingan peka pada saat mereka dirawat. Tetap lakukan edukasi, tekankan ke pasien dan keluarganya. Selalu ikuti protokol kesehatan. Lebih baik sehat daripada sakit !" kata Sri.(zainulmukhtar)