Tidak Batuk, Tidak Bersin, Bukan Berarti Tak Menularkan Covid-19!

Tidak Batuk, Tidak Bersin, Bukan Berarti Tak Menularkan Covid-19!
Foto: Zainulmukhtar



INILAH, Garut- Masih banyak warga di Indonesia tak menyadari potensi bahaya dari orang terpapar Covid-19 tanpa gejala (OTG). Kebanyakan masih beranggapan penularan virus Sars-Cov2 itu terjadi dari orang dengan gejala keluhan sakit batuk dan bersin.

Padahal virus corona dapat ditularkan dari orang melalui percikan ludah atau udara ketika seseorang terpapar virus berbicara atau bernafas, meskipun yang bersangkutan terlihat sehat-sehat saja.

Kondisi seperti itu tergambar dari hasil survey mengenai pengetahuan, sikap, praktik masyarakat terkait cegah Covid-19 dilakukan lembaga riset AC Nielsen kerjasama Unicef dilakukan di enam kota besar di Indonesia, Medan, Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Makassar pada periode Agustus 2020. 


Menurut Konsultan Unicef Risang Rimbatmaja pada talkshow daring belum lama ini, dari sebanyak 2.000 responden, sebanyak 71 persen di antaranya berpikir bila Covid-19 menular dari orang yang batuk atau bersin. Hanya 23% yang menyebut penularan bisa terjadi ketika berbicara atau bernafas.  

"Ini berbahaya karena dapat membentuk persepsi kalau orang tak batuk tak bersin itu berarti enggak apa-apa (tidak menularkan virus)," kata Risang. 

Itu pula sebabnya, lanjut Risang, masih banyak orang menganggap tak perlu menjaga jarak atau memakai masker saat berbicara dengan orang yang tidak batuk atau tidak bersin.

Menurut Risang, sikap seperti itu berkaitan erat dengan seberapa banyak pengetahuan dimiliki seseorang mengenai Covid-19, khususnya cara penularannya. Itu terlihat dari hasil survei, kelompok yang menyebutkan berbicara dan bernafas sebagai awal penularan virus memunyai perilaku menjaga jarak sedikit lebih banyak dibandingkan kelompok lainnya (51,3%).

Dari hasil survei, secara keseluruhan, mereka yang memunyai pengetahuan komplit mengenai Covid-19 cenderung memiliki anggapan sangat besar kemungkinan dirinya dapat terkena Covid-19. Sehingga kelompok tersebut akan lebih terdorong melakukan upaya pencegahan dengan disiplin melaksanakan protokol kesehatan.

Sayangnya, sebagian besar orang masih beranggapan kecil kemungkinan terkena (35%), bahkan tidak mungkin terkena (23%) Covid-19. Sebesar 22% kelompok lainnya menganggap tidak tahu, dan 19% menyebut sangat besar kemungkinan terkena.

"Dari hasil survei ini, terlihat harus diperbaiki dasar pengetahuan. Yang tahu cara penularan dan pencegahan akan sadar besar kemungkinan terkena. Sehingga mendorong pada perilakku pencegahan," ujarnya. 

Senada dikatakan UNICEF Communications Development Specialist Rixky Ika Safitri.  Menurutnya, gap terbesar pengetahuan masayrakat tentang Covid-19 ada pada pengetahuan mengenai cara penularan virus. Banyak yang tak paham bila orang tak sakit itu juga bisa menularkan virus. Sehingga penting dilakukan edukasi lebih lanjut untuk membangun kerangka pikir pengetahuan yang solid bagi warga terkait cara penularan Covid-19.

Hal itu juga dibutuhkan supaya warga tidak termakan hoaks dan tidak mudah menstigma orang terkena Covid-19.
Survei menggunakan data collectio proses dengan 22 pertanyaan dan wawancara tatap muka di rumah. Pengumpulan data dilakukan Agustus 2020 dengan responden terpilih random sebanyak 2.000 sampel, berusia 15-65 tahun dari semua status sosial ekonomi. Lokasi survei meliputi Kota Medan, Jakarta plus Bodetabek, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Makassar.(zainulmukhtar)