Jelang Pilkada 2020, KPU Cianjur Optimistis Tingkat Partisipasi Meningkat

Jelang Pilkada 2020, KPU Cianjur Optimistis Tingkat Partisipasi Meningkat
Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Cianjur, Jawa Barat, Selly Nurdinah (Ahmad Fikri)



INILAH, Cianjur- KPU Cianjur, Jawa Barat, optimistis tingkat partisipasi pada Pilkada Cianjur 2020 meningkat meski sosialisasi langsung atau tatap muka terhambat karena pandemik, sehingga sosialisasi melalui daring atau online digenjot dengan harapan dapat meningkatkan angka partisipasi sesuai target KPU pusat 77 persen.

Ketua KPU Cianjur, Selly Nurdinah di Cianjur Selasa, mengatakan sosialisasi terkait Pilkada Cianjur 2020 yang akan dilaksanakan tanggal 9 Desember, terus digencarkan dengan berbagai cara di tengah masa pandemik yang serba dibatasi, termasuk sosialisasi langsung dengan jumlah peserta yang dibatasi.

"Untuk sosialisasi tatap muka, kami juga melibatkan PPK dan PPS, agar tingkat partisipasi pada pilkada kali ini, terus meningkat minimal lebih tinggi dari tahun sebelumnya di angka 56 persen atau tercapai sesuai target KPU pusat 77 persen. Kami mengenjot sosialisasi melalui media sosial dengan menyentuh pemilih muda dan pemilih pemula," tutur-nya.


Ia menambahkan, sosialisasi melalui media cetak, elektronik dan dsring pun, dilakukan sebagai upaya meningkatkan partisipasi dari Daftar Pemilih Tetap (DPT) sebanyak 1.631.564. "Kami optimistis target untuk meningkatkan angka partisipasi dapat tercapai," ujarnya.

Sementara sosialisasi yang dilakukan KPU Cianjur, dinilai berbagai kalangan belum menyentuh hingga ke pelosok, bahkan beberapa kilometer dari kantor KPU Cianjur, sebagian besar warga seperti di Desa Nagrak, Kecamatan Cianjur, mengatakan belum mengetahui bentuk sosialisasi tersebut.

Sebagian besar warga balik bertanya kapan Pilkada Cianjur 2020 akan digelar dan siapa saja calon yang akan bertarung. Sehingga mereka mengaku tetap akan memilih ke ladang atau ke sawah saat pemilihan karena dinilai belum melihat ada perubahan ketika pergantian kepala daerah dilakukan.

"Kapan pemilihan bupati, kami tidak tahu. Kalau melihat baliho pasangan calon sudah banyak, bahkan sudah banyak yang mendapat kaos. Tidak pernah ada kelompok tani yang mendapat perhatian dari panitia pemilu, kalau dari RT atau RW hanya memberitahukan kami masuk dalam daftar pemilih," kata Rukayah (42) petani pengarap di Desa Nagrak.

Hal senada terucap dari Kuswandi (52) yang sehari-hari bekerja sebagai pemulung, tidak tahu kapan pemilihan kepala daerah akan dilakukan, namun dia hanya mendengar dari mulut ke mulut kalau Cianjur, akan memilih bupati dan wakil bupati baru.

"Kalau melihat baligo pasangan calon banyak, namun sosialisasi terkait pemilihan kapan, saya tidak tahu. Bahkan di tempat kami biasa memulung di TPA Pasirsembung ini, tidak pernah ada sosialisasi dari manapun. Saya asli Cianjur, tidak tahu masuk dalam daftar pemilih atau tidak," ujarnya.