Melejit, Positif Covid-19 diKecamatan Pangatikan Tembus 169 Kasus

Melejit, Positif Covid-19 diKecamatan Pangatikan Tembus 169 Kasus
Ilustrasi/Zainulmukhtar



INILAH, Garut- Penularan virus Sars-Cov2 atau Covid-19 di Kabupaten Garut masih terus terjadi dengan jumlah penambahan volume kasus harian berfluktuatif dan sebaran bertambah meluas di 34 dari 42 kecamatan. 

Data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Garut menunjukkan, hingga 1 November 2020, dari total jumlah positif Covid-19 sebanyak 720 kasus itu terbanyak ditemukan di wilayah Kecamatan Pangatikan. Jumlah positif Covid-19 di kecamatan tersebut mencapai sebanyak 169 kasus, melampaui jumlah kasus positif Covid-19 di kecamatan kawasan perkotaan yang sebelumnya mendominasi kasus positif Covid-19, seperti Kecamatan Tarogong Kidul, Tarogong Kaler, Garut Kota, Karangpawitan, dan Kecamatan Cilawu.

Jumlah kasus positif Covid-19 di Kecamatan Pangatikan melejit menyusul ditemukannya penularan virus pada klaster pesantren di Pesantren Cipari Desa Sukarasa. Sedikitnya 114 santri di sana terpapar Covid-19. 


Sedangkan kasus positif Covid-19 di Kecamatan Torogong Kidul terakhir terdata sebanyak 53 kasus, di Kecamatan Tarogong Kaler sebanyak 36 kasus, Karangpawitan sebanyak 30 kasus, Garut Kota sebanyak 45 kasus, dan di Kecamatan Cilawu sebanyak 73 kasus.

Kecamatan yang juga melejit penambahan kasus positif Covid-nya dengan dominasi klaster pesantren yakni Kecamatan Balubur Limbangan yang kini menempati urutan keempat terbanyak terdapat kasus positif Covid-19 setelah Kecamatan Pangatikan, Cilawu, dan Kecamatan Tarogong Kidul. Kasus positif di Kecamatan Balubur Limbangan sendiri tercatat mencapai sebanyak 48 kasus.

Hal cukup menggembirakan, setelah diisolasi perawatan di rumah sakit selama beberapa hari, kini, berangsung-angsur para santri terpapar Covid-19 dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang dari rumah sakit.

Sayangnya, tidak ada keterangan dari pihak GTPP Covid-19 Kabupaten Garut mengenai pola penularan maupun awal mula penularan virus di kalangan pondok pesantren di Garut tersebut. Apakah berkaitan aktivitas penghuni yang keluar masuk pesantren, lemahnya protokol kesehatan dalam mengawasi keluar masuk tamu termasuk orang tua santri, kurangnya sarana fasilitas untuk pencegahan Covid-19, atau hal lainnya. 

"Belum ada info dari petugas,". Hanya itu yang terucap dari Koordinator Humas GTPP Garut Muksin tentang persoalan tersebut, Senin (2/11/2020). 

Sedangkan Bupati Garut Rudy Gunawan selaku Ketua GTPP Covid-19 Garut sebelumnya menegaskan penularan Covid-19 pada klaster pesantren terjadi akibat pesantren bersangkutan tak menerapkan protokol kesehatan. 

Kemunculan klaster pesantren sebenarnya tak terlalu mengejutkan jika melihat  Kabupaten Garut memang dikenal memiliki banyak pesantren. Ditambah, tidak sedikit di antara pesantren itu tetap menyelenggarakan proses kegiatan belajar mengajar(KBM)-nya secara bertatap muka langsung di ruang kelas seperti biasanya. Tidak memulangkan para santrinya dan mengganti KBM secara tatap muka dengan daring seperti berlaku pada lembaga pendidikan lainnya secara umum. Mulai tingkat Pendidian Anak Usia Dini (PAUD), Taman Kanak-kanak/Raudlatul Athfal (TK/RA), SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA hingga perguruan tinggi (PT).

Merujuk keterangan Wabup Garut Helmi Budiman, jumlah pesantren berijin di Kabupaten Garut saat ini mencapai sekitar 1.200 unit. Di luar itu, masih sangat banyak pesantren yang belum melengkapi perijinannya. 

Sebelum di Pesantren Cipari Desa Sukarasa Kecamatan Pangatikan, kemunculan klaster pesantren dengan jumlah kasus terbilang luar biasa juga ditemukan di Pesantren Pulosari di Desa Cijolang Kecamatan Balubur Limbangan.

Kendati telah terjadi penularan Covid-19 pada klaster pesantren, Muksin yang juga Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Garut tetap optimis penularan Covid-19 pada klaster pesantren di Garut dapat dicegah. Dia mengklaim, Tim GTTP Covid-19 tingkat kabupaten sampai tingkat RW senantiasa berkoordinasi melakukan edukasi dan sosialisasi dengan tokoh-tokoh pesantren untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di lingkungan pesantren. 

Ditegaskan, langkah-langkah dilakukan GTPP Covid-19 sudah dilakukan sejak awal dengan himbauan mematuhi protokol kesehatan, melakukan isolasi terhadap santri yang terkonfirmasi positif, melakukan tracing dan tracking. 

"Sebenarnya, mereka (pesantren) juga sudah memahami protokol dalam rangka pencegahan Covid-19," ujarnya.(zainulmukhtar)