ITB-Unjani Sosialisasikan Dampak Air Tercemar di Desa Kersamaju Tasikmalaya

ITB-Unjani Sosialisasikan Dampak Air Tercemar di Desa Kersamaju Tasikmalaya
Ilustrasi (Istimewa)



INILAH, Bandung - Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Institut Teknologi Bandung (ITB), Jurusan Kimia Fakultas Sains dan Informatika (FSI) Universitas Jenderal Ahmad Yani (Unjani), Himpunan Kimia Indonesia Cabang Jawa Barat-Banten, dan HMK Amisca ITB menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Kersamaju, Cigalontang, Tasikmalaya.

Fokus kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan adalah sosialisasi dampak dan identifikasi air yang tercemar, serta pelatihan pembuatan hand sanitizer dan sabun cair.

Kegiatan ini diikuti oleh masyarakat Karang Taruna Harapan Jaya, Desa Kersamaju yang bermukim di bantaran sungai Ciwulan, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya.


Dosen KK Kimia Analaitik Prodi Kimia FMIPA-ITB, Muhammad Yudhistira Azis mengatakan kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan perairan sungai tergolong minim. Masih banyak limbah rumah tangga dari masyarakat yang dibuang ke sungai, sementara air sungai juga dijadikan sumber mata air bagi mereka. Sehingga masyarakat perlu diberikan edukasi terkait masalah tersebut, terutama dalam aspek air layak minum yang bersumber dari sungai atau air tanah/irigasi.

Lokasi tersebut dipilih karena dilewati oleh aliran sungai Ciwulan, di mana sebagian besar masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai Ciwulan, contohnya RT02 RW01, memanfaatkan air sungai sebagai sumber air, sekaligus sebagai tempat pembuangan sampah. Sementara sumber air lainnya berasal dari air irigasi dan sumur bor yang kedalamannya kurang dari 5 meter.

“Namun dari hasil identifikasi yang telah dilakukan, kandungan air tersebut masih bersifat asam (pH < 7) karena berasal dari area persawahan, sementara kualitas air yang baik berkisar pada pH netral 6,5-7,5. Sehingga masyarakat desa Kersamaju perlu diedukasi mengenai pemilihan sumber air layak minum,” kata M. Yudhistira di kampus ITB, Senin (2/11/2020).

Dia mengungkapkan terdapat empat kegiatan utama diberikan secara paralel, antara lain pertama penyuluhan, sosialisasi, dan pelatihan kepada masyarakat Karang Taruna, kedua pembuatan hand sanitizer dan sabun cair aromaterapi, ketiga pengenalan percobaan Kimia sederhana kepada anak-anak sekolah, dan keempat instalasi depot air layak minum untuk masyarakat.

"Dengan menerapkan ilmu kimia sederhana di lingkungan perairan, masyarakat dapat mengenal dampak dan mengidentifikasi pencemaran air. Edukasi identifikasi parameter kualitas air tercemar sederhana seperti PH, warna, bau, dan rasa dapat disosialisasikan kepada masyarakat desa melalui Karang Taruna sebagai pionir dan agen kreatif untuk kemajuan desa. Diharapkan masyarakat memiliki argumentasi dalam memutuskan kelayakan kualitas air yang dikonsumsi, terutama pada masyarakat yang tinggal di bantaran sungai," paparnya.

Selain itu, kata Yudhistira, edukasi penerapan protokol kesehatan di masa pandemi seperti sekarang juga perlu diberikan pada masyarakat di perdesaan dikarenakan sarana dan prasarana edukasi yang tersedia di desa masih kurang. Edukasi penerapan ilmu kimia yang diberikan berupa pembuatan handsanitizer dan sabun cair akan membantu masyarakat secara mandiri dalam menerapkan protokol kesehatan, melalui pembiasaan mencuci tangan dan penggunaan handsanitizer dalam mencegah dampak penyebaran virus Corona.

"Manfaat lainnya bagi masyarakat yaitu dapat memberdayakan perekonomian secara mandiri dengan memasarkan produk hand sanitizer dan sabun cair tersebut," imbuh Yudhistira.

Dia berharap masyarakat, Karang Taruna, dan anak-anak sekolah setempat mendapatkan berbagai wawasan baru. Informasi yang diberikan dirancang agar mudah dipahami oleh masyarakat dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda.

"Diharapkan hal ini dapat diterapkan di lingkungan desa guna menunjang kepedulian masyarakat terhadap lingkungan dan protokol kesehatan selama pandemi," pungkasnya. (okky adiana)