Ahli: Ubah Strategi dengan Testing Massal Antigen

Ahli: Ubah Strategi dengan Testing Massal Antigen
Foto: Zainulmukhtar



INILAH, Garut- Melakukan pengetatan pergerakan masyarakat untuk mengendalikan dan menekan angka kasus positif Covid-19 sekarang ini sudah tidak efektif lagi. Harus ada pengubahan strategi cepat untuk dapat mengendalikan penyebaran Covid-19 tanpa membatasi pergerakan masyarakat. 

Salah satunya yakni dengan cara meningkatkan kapasitas tes Covid-19 secara massal, pelacakan (tracing) dan perawatan (treatment) dengan mengoptimalkan isolasi mereka yang terpapar Covid-19 secara baik. 

Peningkatan kapasitas tes Covid-19 pun sudah saatnya digantikan dari tes antibody atau rapid test dengan tes swab antigen. Sebuah tes swab cepat dan akurat yang sudah disetujui WHO.  


Hal itu mengemuka pada acara Peluncuran Gerakan Solidaritas Sejuta Tes untuk Indonesia "Jalan Menuju Pandemi Terkendali" digelar Gerakan Solidaritas Sejuta Tes Antigen untuk Indonesia melalui daring dipandu artis Olga Lydia, Rabu (28/10/2020).

Salah satu pembicara, ahli wabah Pandu Riono, mengatakan, pengetatan terhadap aktivitas masyarakat untuk mengatasi kasus Covid-19 sekarang sudah tak efektif lagi karena hal itu mestinya hanya dilakukan pada awal pandemi. Pengetatan itu tak lebih merupakan emergency/kedaruratan paling lama satu bulan. 

Sebagai gantinya maka protokol kesehatan tiga M (memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak) harus tetap dilaksanakan, ditambah melakukan testing massal secara akurat dan cepat. 

Menurutnya, Indonesia sebenarnya bisa mengendalikan kasus Covid-19 dan sebarannya kita bisa lebih baik kita bisa mengendalikan kasus Covid-19 dan menekan sebarannya. Namun kapasitas testing masih minim dan ada keterlambatan atau jeda pelaporan hasil tes serta penanganannya. Hal itu terjadi di seluruh daerah di Indonesia. Sehingga isolasi dua minggu dilakukan terhadap yang terpapar virus pun tak akan efektif karena sebelumnya sudah menularkan virus pada orang lain.  

Persoalan lainnya, kata Pandu, fokus perhatian juga selama ini lebih kepada mereka yang masuk rumah sakit daripada terhadap orang pembawa virus. 

"Rapid test tak memberikan hasil akurat. Ketika dites, hasilnya nonreaktif. Padahal sudah terpapar virus. Sebab memang rapid test itu hanya untuk mengetahui antibodi. Sehingga tes antibodi ini harus diganti," ujarnya.

Pandu menyebutkan, tes antibody sebaiknya diganti dengan tes swab antigen yang bisa mendeteksi pembawa virus. Bisa juga dengan PCR (Polymerase Chain Reaction) namun tak mungkin dilakukan cepat sebab kapasitasnya kurang, dan biayanya sangat mahal. Sedangkan pelacakan pun mesti bisa dilakukan cepat dengan satu orang terpapar minimal dilacak sebanyak 30 orang. 

Karena itulah, lanjutnya, mesti dilakukan pengubahan strategi agar bisa mengendalikan kasus Covid-19. 
"Kalau tak ubah strategi, salah satu kemungkinannya pandemi akan tinggi sekali," katanya. 

Pembicara lainnya, Kepala Pusat Riset Bioteknologi Molekuler dan Bioinformatika (PRBMB) Universitas Padjadjaran Muhammad Yusuf menyebutkan, tes swab antigen sangat spesifik dengan akurasi 98% untuk mendeteksi seseorang terpapar Covid-19. Berbeda dengan tes antibody yang lebih untuk mengetahui terbentuknya antibody atau belum pada seseorang lewat pengujian sampel darah. 

"Kita juga sudah berhasil memproduksi antigen dan sudah didaftarkan ke Kemenkes untuk ijin edarnya. Metode dan prinsip pengujiannya sudah teruji namun harus dibahas mengenai SOP (Standard Operation Procedure)-nya. Kita juga sedang mengembangkan tes antigen bisa dilakukan melalui pengambilan sampel air liur," ujarnya.

Dia menyebutkan, dengan pendeteksian secara akurat dan cepat maka penanganan kasus Covid-19 akan lebih cepat dan tepat. Salah satunya melalui testing massal dengan antigen.

Dengan tes antigen maka orang terpapar Covid-19 dan bisa menularkannya pada orang lain bisa diketahui secara cepat dalam hitungan jam bahkan menit. Sehingga penyebaran virus pun dapat segera dibatasi berhenti pada orang bersangkutan, dan selanjutnya dilakukan isolasi dengan baik.

Salah satu inisiator Gerakan Solidaritas Natalia Soebagjo yakin Indonesia bisa mengendalikan pandemi Covid-19 dengan saling bekerja sama. Salah satunya dengan meningkatkan kapasitas testing. 

"Kita jangan takut dites. Harus partisipasi. Tingkat testing kita masih rendah. Baru 16.000/1 juta. Jauh dari angka untuk bisa mengendalikan. Testing rendah karena terbatasnya pembiayaan," ujarnya.

Karena itu pula, dia mengajak masyarakat ikut menyumbang pengumpulan dana untuk penyediaan alat tes, tepatnya tes antigen, untuk disalurkan pada pihak paling tepat supaya testing berjalan efektif dan efisien. 

Sebagai gambaran, standar WHO, minimal tes harus dilakukan per 1.000 penduduk/minggu. Jika populasi penduduk indonesia 270 juta maka perminggu dibutuhkan 270.000 tes. Dengan biaya tes antigen Rp100 ribu maka dibutuhkan Rp27 miliar per minggu untuk satu Indonesia.

Hal itu jauh lebih murah jika tes menggunakan PCR. Dengan asumsi PCR Rp1 juta per tes maka dibutuhkan Rp270 miliar per minggu.(zainulmukhtar)