Jabar Rentan Bencana, Ini Sebabnya Kata DPRD Jabar

Jabar Rentan Bencana, Ini Sebabnya Kata DPRD Jabar
dok/inilahkoran



INILAH, Bandung - Ancaman tahunan berupa banjir dan longsor kembali menghantui Provinsi Jawa Barat, karena sudah memasuki musim hujan. Itu terbukti dengan terjadinya beberapa peristiwa seperti banjir di Kabupaten Sukabumi, longsor di Kabupaten Bogor dan Kabupaten Tasikmalaya.

Sekretaris Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat Yunandar Rukhiadi Eka Perwira mengatakan, secara geografis tatar Sunda diakuinya memang sangat rentan akan bencana. Ini terjadi selain karena kontur tanah, bencana juga terjadi akibat manusia. Contohnya kata dia, dengan diubahnya hutan menjadi lahan pertanian serta pemilihan tempat bermukim yang tidak tepat, juga menjadikan bencana banjir dan longsor menjadi merugikan.

“Jawa Barat ini, kalau kita bicara dari sisi kebencanaan. Nomor satu di Indonesia. Terutama di bagian Selatan, seperti Tasikmalaya, Garut dan Sukabumi. Itu rawan sekali longsor dan banjir. Nah dua hal ini berkaitan erat dengan konservasi lingkungan hidup. Bencana yang terjadi itu biasanya di wilayah yang kemiringannya ekstrim. Ketika vegetasi diatasnya rusak, akhirnya menyebabkan longsor. Atau bisa juga karena ada gempa. Terkait bencana ini, kita memang rentan karena kalau kita lihat kontur tanah kita, hal itu pasti akan sering terjadi,” ujar Yunandar kepada INILAH.


“Tetapi yang jadi masalah adalah, bencana yang akhirnya merugikan. Apalagi sampai merenggut nyawa. Kalau kita paham bagaimana pemetaannya, hal tersebut tidak akan terjadi. Jadi masalah utamanya adalah manusianya. Manusianya yang tidak menyadari bahwa kita ini berada di wilayah rawan bencana. Harusnya kita paham, supaya jangan sampai merugikan. Hindari membuat lahan pertanian yang sekiranya di lahan yang miring. Begitu juga ketika membangun pemukiman. Soalnya di kita ini kadang, tanpa adanya penggundulan hutan juga, bisa saja terjadi bencana karena tanahnya miring. Ini, sudah tahu rawan tetapi tetap tinggal disana dan kemudian beralasan hidup dan mati bagaimana dengan yang di atas (Allah SWT). Ya susah kalau begitu pemikirannya,” imbuhnya.

Dia berharap, ada langkah dari pemerintah salah satunya dengan menjadikan mitigasi bencana masuk dalam kurikulum pendidikan. Sehingga masyarakat awam menjadi paham, bagaimana caranya supaya bisa terhindar dari bencana dan tidak berdampak sampai harus kehilangan nyawa.

“Saya berharap, ada pelajaran yang mengajarkan terkait masalah ini. Seperti bagaimana mitigasi kebencanaan masuk dalam kurikulum pendidikan. Biar masyarakat paham, dimana saja yang rawan bencana. Sehingga bisa terhindar dari dampak bencana yang memang pasti akan terjadi, karena faktor alam kita. Terpenting sekarang, adalah bagaimana tidak terdampak kepada masyarakat atas bencana yang terjadi,” ucapnya. (Yuliantono)