9.204 Jiwa Terdampak Banjir dan Longsor Garut Selatan

9.204 Jiwa Terdampak Banjir dan Longsor Garut Selatan
Ilustrasi (zaenulmukhtar)



INILAH, Garut - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut masih terus mengidentifikasi kerusakan dan nilai kerugian dampak bencana banjir dan longsor yang melanda wilayah selatan Kabupaten Garut pada 12 Oktober 2020.

Hingga per 16 Oktober 2020, tercatat ada sebanyak 2.964 kepala keluarga (kk) setara 9.204 jiwa tersebar di 44 desa di enam kecamatan terdampak bencana banjir dan longsor di wilayah selatan Kabupaten Garut. Keenam kecamatan tersebut yakni Kecamatan Pameungpeuk, Cikelet, Cibalong, Peundeuy, Cisompet, dan Kecamatan Banjarwangi.

Sebanyak 271 KK di antara yang terdampak bencana tersebut mengungsi. Di Kecamatan Pameungpeuk, banjir terjadi di delapan desa, yaitu di Desa Mancagahar, Mandalakasih, Jatimulya, Pameungpeuk, Sinarbakti, Bojongkidul, Paas, dan Bojongkaler.


Di Kecamatan Cikelet, banjir melanda enam desa, yaitu Desa Pamalayan, Cikelet, Cigadog, Tipar, Cijambe, dan Desa Ciroyom). Di Kecamatan Cikelet juga terjadi bencana longsor di empat desa, yaitu di Desa Cikelet, Linggamanik, Pamalayan, dan Cijambe. Ditambah satu kejadian pergerakan tanah di Desa Cikelet.

Di Kecamatan Cibalong, banjir terjadi di delapan desa, yaitu di Desa Karyamukti, Karyasari, Najatan, Mekarwangi, Mekarsari, Sagara, Maroko, dan Desa Mekarmukti.

Di Kecamatan Peundeuy, tanah longsor terjadi di enam desa, yaitu di Desa Saribakti, Purwajaya, Peundeuy, Toblong, Sukanagara, dan Desa Pangrumasan.

Di Kecamatan Cisompet, tanah longsor terjadi di sebelas desa, yaitu di Desa Cikondang, Neglasari, Sukanagara, Sindangsari, Depok, Cisompet, Sukamukti, Cihaurkuning, Margamulya, Jatisari, dan Desa Panyindangan.

Di Kecamatan Banjarwangi, bencana pergerakan tanah terjadi di satu desa, yaitu Desa Banjarwangi. "Jadi, hasil pendataan, banjir itu di 22 desa di tiga kecamatan, dan longsor berikut pergerakan tanah di 22 desa di empat kecamatan," kata Kepala Bidang Kesiapsiagaan dan Pencegahan BPBD Kabupaten Garut TB Agus Sopyan.

Bencana banjir dan longsor itu juga mengakibatkan sebanyak 1.141 unit bangunan rumah rusak. Sebanyak 203 unit rumah di antaranya rusak berat, 297 unit rusak sedang, dan 641 unit rusak ringan. Sedangkan bangunan rumah terendam mencapai sebanyak 2.488 unit.

Bencana tersebut juga menyebabkan ratusan fasilitas umum mengalami kerusakan atau terdampak. Antara lain sebanyak 27 unit bangunan masjid, 11 unit bangunan posyandu, 4 unit bangunan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), satu unit bangunan madrasah, 8 unit sekolah, 25 unit jembatan, 25 ruas jalan, 18 buah TPT, 17 buah jalan lingkungan, dan seratus fasum lainnya.

Sedangkan mengenai nilai kerugian material akibat bencana banjir dan longsor di enam wilayah kecamatan tersebut, kata Agus Sopyan, hingga kini masih dalam penghitungan. "Kita masih menunggu hasil asesmen TRC (Tim Reaksi Cepat) PUPR (Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang)," ujar Agus Sopyan, Jumat (16/10/2020).

Yang jelas, lanjutnya, pihaknya dalam masa darurat pemulihan saat ini masih terus melakukan asesmen. Baru setelah pemulihan, dilakukan penghitungan rehab rekonstruksi," katanya.

Terpisah, Kepala Dinas PUPR Garut Luna Avriantini mengatakan, pihaknya belum bisa menyebutkan angka persis nilai kerugian akibat bencana banjir dan longsor di selatan Garut itu karena masih sedang dilakukan penghitungan. "Sedang dihitung bersama-sama BPBD," ujarnya. (zainulmukhtar)