Waspadai Klaster Keluarga, Lonjakan Positif Covid-19 di Garut Capai 156 Kasus

Waspadai Klaster Keluarga, Lonjakan Positif Covid-19 di Garut Capai 156 Kasus
Ilustrasi (zaenulmukhtar)



INILAH, Garut - Selain aktivitas di luar rumah dan berada dalam kerumunan tanpa menjaga jarak, penularan Covid-19 antaranggota keluarga (klaster keluarga) juga patut diwaspadai.

Apalagi, dalam perkembangan terakhir, kasus positif Covid-19 cenderung menimpa orang tanpa keluhan sakit, atau orang tanpa gejala (OTG). Lonjakan kasus positif Covid-19 di Kabupaten Garut terjadi dalam tiga pekan terakhir pun ditengarai didominasi klaster keluarga.

Dalam rentang 24 hari terakhir, terjadi lonjakan signifikan penambahan kasus positif Covid-19 sebanyak 156 kasus hingga total kasus positif Covid-19 di Kabupaten Garut per 15 Oktober 2020 mencapai sebanyak 351 kasus.


Jumlah penduduk laki-laki maupun perempuan terpapar Covid-19 dari sebanyak 351 kasus tersebut nyaris seimbang, yakni laki-laki sebanyak 177 orang, dan perempuan 174 orang dengan rentang usia antara 4 hari hingga 81 tahun.

Lonjakan kasus positif Covid-19 tersebut terjadi menyusul pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Mikro (PSBM) di sejumlah permukiman di sebelas desa/kelurahan di delapan kecamatan sejak 21 September 2020.

Yakni, di Kecamatan Sukawening, Karangpawitan, Garut Kota, Tarogong Kidul, Banyuresmi, Bayongbong, Cilawu, dan Kecamatan Cikajang.

Sedangkan jumlah kasus positif Covid-19 per 21 September 2020 itu baru mencapai sebanyak 195 kasus tersebar di 26 kecamatan dengan kematian sebanyak sembilan kasus. Namun per 15 Oktober 2020, kasus positif Covid-19 tercatat meningkat menjadi sebanyak 351 kasus dengan kematian sebanyak 13 kasus.

Sebarannya pun meluas menjadi di 30 dari 42 kecamatan yang ada di Kabupaten Garut dengan peningkatan kasus kematian sebesar 44 persen. Ada peningkatan kasus positif sebesar 80 persen dalam rentang 24 hari.

Padahal selain pemberlakuan PSBM dengan dua lokasi di antaranya dikarantina, Pemkab Garut juga sebelumnya sudah membentuk relawan Covid-19 dari kalangan dari kalangan aparatur sipil negara (ASN) setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemkab Garut.

Saat memimpin Apel Kesiapsiagaan Relawan Covid-19 di Lapang Setda Kabupaten Garut pada 17 September 2020, Bupati Garut Rudy Gunawah bahkan menegaskan kesiapannya menekan penyebaran Covid-19 pada klaster keluarga di Garut supaya tidak meluas.

Alih-alih berkurang, kasus positif Covid-19 malah meningkat, bahkan Bupati Rudy, pada 19 Oktober 2020, menyatakan Kabupaten Garut dalam kondisi darurat Covid-19.

Lonjakan kasus positif Covid-19 juga terjadi di kecamatan yang terdapat pemberlakuan PSBM, terutama di wilayah Kecamatan Cilawu. Dalam rentang 24 hari, sejak diberlakukan PSBM, di kecamatan berbatasan Kabupaten Tasikmalaya tersebut justru terjadi penambahan sebanyak 37 kasus positif Covid-19.

Sehingga per 15 Oktober 2020, Kecamatan Cilawu merupakan kecamatan terbanyak kasus positif Covid-19 di Kabupaten Garut dengan jumlah 50 kasus, terdiri 36 perempuan dan 14 laki-laki.

Belum ada penjelasan dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kabupaten Garut mengenai penyebab terjadinya lonjakan kasus positif Covid-19 dalam tiga pekan terakhir itu. Apakah tingkat kedisiplinan warga terhadap protokol kesehatan pencegahan Covid-19 masih kurang, relawan Covid-19 tak berjalan sebagaimana diharapkan, ataukah ada faktor lain ?

Juga belum diperoleh keterangan mengenai seberapa jauh efektivitas pelaksanaan PSBM di Kabupaten Garut selama ini ? Apakah PSBM akan diperpanjang atau diperluas ? Bagaimana pula upaya dilakukan Pemkab Garut menyikapi masih melonjaknya kasus positif Covid-19 di Kabupaten Garut itu ?

Kendati begitu, GTPP Covid-19 Kabupaten Garut mengisyaratkan lonjakan kasus positif Covid-19 tersebut berkaitan meningkatnya klaster keluarga. 

Hal itu tampak dari peringatan disampaikan Koordinator Humas GTPP Covid-19 Kabupaten Garut yang juga Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Garut, ancaman penularan Covid-19 di klaster keluarga atau antaranggota keluarga saat ini semakin meningkat.

Karenanya, upaya pencegahan untuk mengurangi risiko penularan menjadi sangat penting, dengan menumbuhkan kesadaran dan kewaspadaan di dalam keluarga itu sendiri. Caranya melalui pembiasaan tetap memakai masker di rumah, menerapkan etika batuk dan bersin, cuci tangan, makan bergizi seimbang, istirahat yang cukup serta mengelola stres dengan baik. (zainulmukhtar)