86 Santri Terpapar Covid-19, Ade Yasin Bentuk Satgas Pesantren

86 Santri Terpapar Covid-19, Ade Yasin Bentuk Satgas Pesantren
Foto: Reza Zurifwan



INILAH, Bogor - Bupati Bogor Ade Yasin membentuk satuan tugas percepatan penangganan Covid-19 pondok pesantren, hal itu karena hingga saat ini 86 orang santri terpapar wabah Covid-19 tersebut.

86 orang santri tersebut mondok di Pondok Pesantren Al Kaukab (2 orang), Kecamatan Gunung Putri, Pondok Pesantren Ummul Quro (7 orang), Kecamatan Leuwiliang dan Pondok Pesantren Daarul Ulum, Kecamatan Cigombong (77 orang).

"Menindak lanjuti klaster penyebaran wabah Covid-19 di tiga pondok pesantren diatas, Pemkab Bogor pun langsung membentuk Satgas Percepatan Penangganan Covid 19 pondok pesantren (Satgas Pesantren)," kata Ade Yasin kepada wartawan, Senin, (12/10).


Mantan advokat ini menerangkan tugas Satgas Pesantren ini bertugas untuk mengawasi dan memastikan pelaksanaan protokol kesehatan Covid-19 di pondok-pondok pesantren.

"Berdasarkan Surat Keputusan Bupati Bogor nomor 443/458/Kpts/Per-UU/2020 kan harus ada pembatasan jumlah santri yang melaksanakan sistem belajar tatap muka, santri maupun guru tidak boleh keluar lingkungan pondok pesantren, orang tua atau saudara tidak boleh menjenguk dan aturan lainnya, peraturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pra Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) harus dilaksanakan dan pelaksanaannyasaya tekankan merupakan tugas Satgas Pesantren," terangnya.

Kepada pihak yayasan ataupun pendidik di pondok pesantren, Ade meminta agar mematuhi peraturan karena kalau ada santri atau guru yang terpapar maka proses tracingnya sangat berat.

"Saya minta pihak yayasan ataupun pendidik di pondok pesantren mematuhi peraturan protokol kesehatan Covid-19, karena jika ada satu santri yang terpapar wabah Covid-19 maka pihak yang akan  ditracing oleh Dinas Kesehatan pasti sangat banyak dan membutuhkan banyak alat rapid test atau swab test," pinta Ade.

Mengenai 86 santri yang terpapar wabah Covid-19, wanita berusia 52 tahun ini menjelaskan bagi santri yang memiliki penyakit bawaan atau memiliki gejala dirawat di rumah sakit.

"Santri yang terpapar wabah Covid-19 dan memiliki gejala akan dirawat, lalu bagi yang termasuk orang tanpa gejala (OTG) akan diisolasi mandiri dengan pengawasan Satgas Pesantren maupun Dinas Kesehatan," jelasnya.

Ade mengakui ada kesulitan dalam penangganan penyebaran wabah Covid-19 di pondok-pondok pesantren hingga ia sempat berpikir agar para santri belajar dengan sistem online.

"Pemkab Bogor sih inginnya santri di pondok-pondok pesantren diliburkan atau belajar dengan sistem online, tetapi karena Kementerian Agama dan Pemprov Jawa Barat membolehkan para santri melakukan belajar secara tatap muka maka kami pun mengikuti kebijakan tersebut," tukas Ade. (Reza Zurifwan)