Vila Milik Warga Negara Oman Ramai Digunjingkan Warga Cigombong

Vila Milik Warga Negara Oman Ramai Digunjingkan Warga Cigombong
Foto: Reza Zurifwan



INILAH, Bogor - Keberadaan vila-vila milik warga negara asing tepatnya Oman ramai diperbincangkan masyarakat Cigombong. Terutama warga Desa Pasir Jaya tempat berdirinya bangunan tempat bersantai tersebut.

Hal itu mencuat setelah terjadi bencana alam banjir bandang dan tanah longsor di Desa Pasir Jaya, Desa Tugu Jaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor maupun Desa Pasawahan, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi yang patut diduga akibat alih fungsi lahan di Kawasan Gunung Halimun Salak.

"Emang di sini ada banyak vila warga Negara Oman yang berdiri di atas lahan garapan, malah ketika bencana alam ikut terkena banjir," kata Didi (56 tahun) warga Kampung Loji, Desa Pasir Jaya kepada wartawan, Senin (5/10/2020).


Evi warga Kampung Palalangon Desa Pasir Jaya menambahkan vila milik warga Negara Oman ada cukup banyak, seperti tanah yang dipijaknya dan beberapa vila yang menuju objek wisata Alas Bandawasa.

"Di sini sebelum dibeli orang Jakarta dulunya punya warga negara Oman, diatas sebelum objek wisata Alas Bandawasa ada vila (berlantai 3) milik warga negara Oman berinisial HM," tambah Evi.

Andi warga Kampung Loji, Desa Pasir Jaya lainnya menyayangkan banyaknya alih fungsi lahan yang menjadi bangunan liar (vila)  diatas lahan garapan milik PT. BSS, ia menduga karena alih fungsi lahan itu terjadi  bencana alam banjir bandang di Kampung Palalangon.

"Vila itu berdiri diatas Sungai Cikeduk atau Cisereuh, selain bencana alam banjir bandang, tebing-tebing dekat sungai tersebut juga mengalami tanah longsor. Saya minta Satpol PP Kabupaten Bogor melihat ke lokasi apakah puluhan vila di sini (Cigombong) itu ada izinnya," tegas Andi.

Ditemui terpisah, Kepala Desa Pasir Jaya Suhanda Hendrawan mengaku kesulitan membuktikan bahwa bangunan vila-vila tersebut milik warga negara asing tepatnya Oman.

"Emang bisa warga negara asing memiliki tanah maupun vila, kalaupun ada mungkin aja bangunan vila tersebut atas nama warga negara Indonesia," singkat Suhanda.

Ia melanjutkan bangunan vila yang patut diduga milik warga negara Oman karena kerap didatangi orang yang berasal dari timur tengah, namun ketika ditanya Inilah apakah vila tersebut disewakan Suhanda pun menyanggahnya. 

"Vila tersebut tidak disewakan dan memang kerap dikunjungi warga negara asing, tapi saya ga tau pasti itu vila milik siapa karena saya baru 9 bulan menjabat sebagai kepala desa," lanjutnya. 

Sebelumnya, Kamis (30/7/2020) lalu anggota Ombudsman Republik Indonesia Adrianus Meliala dalam diskusi virtual terkait Kampung Arab di Puncak, Kabupaten Bogor mengungkapkan jajarannya menemukan sejumlah potensi maladministrasi pada penataan kawasan Kampung Arab di Puncak, Kabupaten Bogor, yakni tindakan pembiaran dan pengabaian kewajiban hukum.

Hal ini berdasarkan investigasi atas prakarsa sendiri oleh Ombudsman yang menghasilkan temuan di antaranya tidak adanya data mengenai jumlah imigran, pekerjaan informal yang dilakukan warga negara asing (WNA), status kepemilikan aset tanah, izin mendirikan bangunan dan tempat usaha yang tidak sesuai, serta status dan administrasi anak hasil perkawinan campuran.

“Kepada Ombudsman, aparat setempat mengaku kesulitan melakukan pendataan dikarenakan para imigran yang sering berpindah-pindah tempat,” ungkap Adrianus.

Ombudsman juga menyoroti dugaan penyelundupan hukum, dimana tanah/aset yang dijadikan tempat usaha, khususnya vila diduga dimiliki oleh warga negara asing dan dikelola oleh penduduk lokal. Secara administratif nama yang tertera di sertifikat adalah nama penduduk lokal, namun pemilik sebenarnya adalah WNA. (Reza Zurifwan)