Alih Fungsi Lahan di Puncak, Semakin Hari Semakin Marak Terjadi

Alih Fungsi Lahan di Puncak, Semakin Hari Semakin Marak Terjadi
Foto: Reza Zurifwan



INILAH, Cisarua - Keberadaan prasasti pekan penghijauan nasional ke-1 yang ditandatangani Bupati Bogor Soedardjat Nataatmadja di Gunung Mas Cisarua pada 1961 silam hanya menjadi saksi bisu. 

Bahkan, Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 48/1983 tentang Penangganan Khusus Penataan Ruang dan Penertiban Serta Pengendalian Pembangunan Kawasan Pariwisata Puncak tak berarti sama sekali.

Tokoh masyarakat Cisarua Yudi Wiguna mengatakan, bukannya semakin hijau justru Kasawan Puncak kini semakin marak alih fungsi lahan. Dia mengisahkan, bangunan liar terutama vila semakin banyak didirikan sejak 1980an.


"Prasasti hingga Keppres itu tidak lagi diindahkan. Termasuk, pemerintahan daerah. Hingga kita lihat banyak alih fungsi lahan di kawasan Puncak hingga pernah terjadi banjir bandang di Kecamatan Cisarua dan Megamendung," kata Yudi kepada wartawan, Selasa (29/9/2020).

Ayah enam orang anak ini menerangkan, selama ini tidak ada langkah berarti hingga terjadi peralihan lokasi bencana alam yang tahun-tahun sebelumnya terjadi di wilayah hilir menjadi di wilayah hulu seperti kawasan Puncak.

"Kalau Pemprov DKI Jakarta mencegah bencana alam banjir dengan merevitalisasi sungai, di sisi lain di Puncak malah terjadi pengurangan besar-besaran luas perkebunan. Dimana bukan hanya menjadi vila tetapi juga usaha lainnya. Hal ini terjadi patut diduga ada main setali tiga uang dimana ada upeti ke aparat hingga terjadi pembiaran," terangnya.

Dia menuturkan, terjadinya bencana alam banjir maupun longsor pada Senin (21/9/2020) lalu di dua desa di Kecamatan Cisarua dan tujuh desa di Kecamatan Megamendung harus menjadi momentum perbaikan.

"Ayo kita mengkaji dan mengenal diri dan harus bisa mengembalikan Kawasan Puncak sebagai daerah resapan air, penertiban bangunan liar yang dilakukan Pemkab Bogor janganlah pandang bulu, dimana hanya dilakukan kepada masyarakat kecil," tutur pria yang akrab disapa Abah Yudi itu.

Pria berusia 55 tahun ini melanjutkan, bencana itu pun merupakan akibat berkurangnya luas perkebunan teh di Gunung Mas. Dia menyebutkan, nantinya kawasan Puncak yang terkenal kebun tehnya sebentar lagi hanya tinggal kenangan.

"Sekarang luas perkebunan teh mulai berkurang. Tugu botol teh sudah tidak ada hingga, saya khawatir kalau tidak ada kemauan untuk mengembalikan dan merawatnya maka kedepan cucu kita hanya mengenal kebun teh di kawasan Puncak melalui buku sejarah saja," lanjutnya. (Reza Zurifwan)