Saksi Cabut BAP, Pengacara Iryanto: Patut Diduga Ada Rekayasa

Saksi Cabut BAP, Pengacara Iryanto: Patut Diduga Ada Rekayasa
Foto: Reza Zurifwan



INILAH, Bogor - Satu orang saksi kasus dugaan gratifikasi atau suap dengan terdakwa Iryanto di Pengadilan tindak pidana korupsi (Tipikor) Bandung mencabut keterangan yang ada di Berita Acara Pemeriksaan (BAP).

Hal itu membuat kuasa hukum Iryanto yaitu Dinalara Butar-Butar berpendapat bahwa kasus dugaan gratifikasi atau suap izin Pengesahan Dokumen Rencana Teknis (PDRT) vila di Kecamatan Cisarua dan rumah sakit di Kecamatan Cibungbulang patut diduga merupakan rekayasa.

"Saksi Jakson Boy menyangkal bahwa tidak terbitnya izin PDRT vila dan rumah sakit karena ada intervensi terdakwa Iryanto tetapi karena tidak direvisinya gambar oleh konsultan pemohon, ia juga menyangkal bahwa Iryanto meminta uang suap dengan kode 'galon' seperti yang tertuang dalam BAP," kata Dinalara kepada wartawan, Senin (21/9/2020).


Ia menerangkan, untuk keterangan saksi lainnya bernama Apay bahwa dirinya pernah bertemu atau melihat penyuap Fikri Salim bertemu Iryanto pada Bulan September Tahun 2019 lalu juga lemah karena ruangan Iryanto dan Apay berbeda lantai.

"Apay ruangannya di lantai III sedangkan Iryanto ruangannya di lantai I Dinas Perumahan Kawasan Pemukiman dan Pertanahan (DPKPP) hingga janggal kalau resepsionis menanyakan keberadaan Iryanto ke Apay, lalu dalam keterangan Aparatur Sipil Negara (ASN) lainnya bernama Agus Budhi di BAP, pertemuan Fikri Salim dengan Iryanto ternyata 3 orang bersama Faisal. keterangan Apay dan BAP Agus Budi ini tidak sinkron hingga patut diduga ada kebohongan atau rekayasa dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan pihak kepolisian pada Selasa (3/3/2020) lalu," terangnya.

Dina sapaan akrabnya menjelaskan bahwa pertemuan antara Iryanto dengan Fikri Salim, Agus Budhi dan Faisal tidak permah membicarakan nilai rupiah dan hanya perkenalam biasa saja.

"Memang Faisal bilang dirinya harus diback up atasan, hingga Agus Budhi memperkenalkan Fikri Salim kepada Iryanto, tetapi tanpa sepengetahuan Iryanto mereka membahas nilai rupiah atau uang suap di ruangan Faisal. Ini modus biasa, bahwa nama pimpinan dijual oleh anak buahnya sementara uang suap sebelumnya yang diserahkan di Cibinong City Mall (CCM) ternyata dari angka Rp100 juta terdakwa Iryanto tidak menerima uang suap tersebut," jelas Dina.

Dia memaparkan, sebenarnya Rencana Ketinggian Bangun (RKB) vila dan rumah sakit sudah terbit, dan tinggal menunggu revisi gambar maka terbit izin PDRT.

"Izin  RKB bangunan vila  dan rumah sakitnya terbit tanpa intervensi Iryanto, lalu izin PDRTnya juga tinggal revisi gambar. Ini kan ada permainan dan berdasarkan bukti transfer serta bukti lainnya hakim bisa menilai secara objektif siapa pihak yang menikmati uang suap tersebut. Perkara ini bertambah janggal karena penyuap dan penerima suapnya belum menjadi tersangka ataupun terdakwa sementara Iryanto yang tidak mengetahui bahwa isi amplop cokelat besar yang ditaruh oleh penyuap di bawah meja tamu adalah uang sebesar Rp 50 juta, malah menjadi terdakwa," paparnya.

Dina melanjutkan akibat keterangan yang berbeda, di persidangan Tipikor dirinya didepan majelis hakim dan panitera pun mencoret keterangan saksi di BAP.

"Setelah saya tanya dan ada pernyataan yang hal berbeda baik itu saksi dari staf Iryanto maupun kepolisian maka saya coret semua BAPnya, isi BAP tiga orang saksi dari kepolisian sama 100 persen hingga titik komanya dan itu aneh menurut saya dan saya kecewa karena ini kan menyangkut nasib orang atau masyarakat," lanjut Dina.

Menanggapi sidang Tipikor dengan terdakwa Iryanto, Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Bogor Munaji berpendapat bahwa sidang tersebut belum bisa disimpulkan.

"Belum bisa disimpulkan, karena kasus dugaan Tipikor dengan terdakwa Iryanto masih  berlangsung. Kita tunggu hingga sidang selesai di Pengadilan Tipikor Bandung,"  tukas Munaji. (Reza Zurifwan)