Petani Bogor Bakal Jadi Milyarder, Ini Langkah Distanhorbun

Petani Bogor Bakal Jadi Milyarder, Ini Langkah Distanhorbun
Kepala Distanhorbun Kabupaten Bogor Siti Nuriyanti. (Reza Zurifwan)



INILAH, Bogor- Dinas Pertanian, Holtikultura dan Perkebunan (Distanhorbun) Kabupaten Bogor akan memaksimalkan potensi perkebunan porang atau yang memiliki nama latin amorphophallus muelleri.

Hal ini dilakukan karena harga komoditi porang lebih mahal dari umbi-umbi lainnya yaitu Rp 100 ribu perkilogram (kualitas ekspor) karena akan diekspor ke luar negeri, hingga nantinya akan menaikkan taraf hidup para petani.

"Harga umbi porang ini jauh lebih mahal dari umbi-umbi lainnya karena akan diekspor ke luar negeri seperti Jepang, Korea dan RRC, kami akan mensosialisasikan cara tanam hingga panen kepada para petani di Bumi Tegar Beriman," ucap Kepala Distanhorbun Kabupaten Bogor Siti Nuriyanti kepada wartawan,  Senin, (21/9).


Ia menerangkan saat ini luas lahan perkebunan yang ditanami porang ada 25 hektare dan akan diperluas hingga 100 hektare, dengan sasaran di timur dan barat Kabupaten Bogor.

"Kami akan memanfaatkan lahan-lahan marginal atau tebing, maupun lahan perkebunan karet untuk ditanami porang hingga las areal tanam bisa memcapai 100 hektare, petani bisa belajar dari kesukesan Paidi seorang pemulung asal Desa Kepel, Kecamatan Kare, Madiun yang menjadi milyarder karena bertani porang," terangnya.

Nuriyanti menuturkan umbi porang yang diekspor oleh perusahaan ekportir di Kecamatan Cariu berupa tepung atau chip, untuk nantinya dijadikan bahan baku mie atau kosmetik.

"Kabupaten Bogor akan menjadi sentra perkebunan porang, rencana tersebut didukung penuh oleh Kementerian Pertanian dengan akan dibuat sistem kerja yang mendukung termasuk ada pinjaman modal lunak. Kami melibatkan BNI untuk mensukseskan program ini," tutur Nuriyanti.

Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Bogor Ahmad Tohawi menyambut baik rencana Distanhorbun, namun ia meminta dinas tersebut memastikan keaneka ragaman pangan di Bumi Tegar Beriman hingga Kabupaten Bogor layak menjadi daerah agraris.

"Jangan hanya menanam umbi porang yang harganya mahal, tetapi juga bisa menanam tanaman pangan, holtikutura dan perkebunan agar kandungan gizi yang didapat masyarakat juga membaik. Secara anggaran, kami siap mendukung kalau memang peluang pasar produk pertanian, holtikutura dan perkebunan hingga menjadikan Kabupaten Bogor sebagai daerah agraris," pinta Tohawi. (Reza Zurifwan)