Sikap Kami: Barang Langka: Keteladanan

Sikap Kami: Barang Langka: Keteladanan



PADA edisi kemarin, koran ini memberi judul berita utamanya ‘Emil Sang Teladan’. Tentulah bukan sebuah judul yang lebay. Itu sekadar memberi gambaran betapa keteladanan menjadi barang yang sulit dicari saat ini.

Kesediaan Gubernur Jawa Barat itu menjadi relawan uji klinis vaksin Sinovac, hemat kami, adalah keteladanan itu. Tak hanya Emil sebenarnya, melainkan juga Pangdam III Siliwangi, Kapolda Jawa Barat, dan Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Barat.

Sistem yang kita anut saat ini, memungkinkan kita merasakan pergantian kepemimpinan dalam waktu cepat. Seseorang hanya bisa jadi pemimpin dua periode, 10 tahun. Setelah itu berganti.


Sudah banyak pemimpin yang kita dapatkan dan rasakan. Dari kepala negara, kepala daerah provinsi, kabupaten dan kota, bahkan hingga ke desa. Semua dengan gaya dan style yang berbeda. Dari yang visioner hingga biasa saja. Dari yang merakyat hingga pura-pura merakyat.

Satu yang selalu sulit kita dapatkan adalah pemimpin yang memberi teladan. Mereka yang paham dan mengerti apa hakikat pemimpin. Bukan sekadar seorang pengendali, melainkan juga sebagai contoh. Sebagai teladan.

Kita mendapatkannya pada masa-masa lalu. Dari Soekarno tentang semangat pembebasan. Dari Hatta tentang kesederhanaan, ekonomi kerakyatan, dan kedisiplinan waktunya. Dari Agus Salim yang tinggal di kontrakan gang sempit dan tak punya uang untuk membeli kain kafan anaknya yang meninggal. Dari Mohammad Natsir, perdana menteri yang bajunya saja penuh tambalan.

Setelah era mereka itu, gambaran kita tentang kepemimpinan bukanlah pemimpin yang sempurna, tapi orang yang sempurna. Sempurna gagahnya, sempurna gayanya, dan sempurna pula kantongnya. 

Terlebih selepas era Orde Baru, ketika kita memilih pemimpin sendiri secara langsung. Sulit bagi orang dari ekonomi kelas bawah jadi pemimpin karena dia tak punya modal. Demokrasi kita terlalu mahal. Maka kalau tak punya modal sendiri, dicarikanlah pemodalnya. Bagaimana mungkin kita mendapatkan pemimpin ideal, pemimpin panutan dengan cara seperti itu?

Yang muncul adalah pemimpin yang seolah-olah jadi panutan, jadi teladan. Dan, itu hanya terlihat saat kampanye. Begitu memimpin, sikap aslinya yang sulit dipanut dan diteladani, muncul.

Itulah sebabnya, keputusan Ridwan Kamil, juga Forkopimda, menjadi relawan uji klinis vaksin Sinovac –yang ogah diikuti seorang menteri—kita tempatkan pada sikap keteladanan. Sikap itu memberi rujukan, bahwa dalam kondisi yang pahit, pemimpin harus berada di depan. Beda dengan yang kebanyakan, berada di depan ketika hendak mendapat pujian, menyampaikan keberhasilan. (*)