Komponen Susu Dalam Bansos Akan Memajukan Ekonomi Petani Sapi Perah

Komponen Susu Dalam Bansos Akan Memajukan Ekonomi Petani Sapi Perah
Foto: Rianto Nurdiansyah



INILAH, Bandung - Upaya Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengganti komponen telur menjadi susu pada bantuan sosial Covid-19 dinilai akan memajukan ekonomi masyarakat. Khususnya bagi para petani sapi perah dan seluruh pihak yang terlibat dalam produksi susu sapi di Jabar. 

Kapala Dinas Ketahan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jawa Barat Jafar Ismail mengatakan, berdasarkan data ternak sapi perah di Jawa Barat tercatat sekitar 12.716 ekor pada 2019. Sedangkan, produksi susu di angka 31.885 ton dengan kebutuhan konsumsi susu 8,33 kilogram per kapita per tahun. 

"Sehingga kebutuhannya itu 410.562 ton. Jadi masih defisit 58.637 ton. Tapi, dengan jumlah itu untuk bansos yakin akan terpenuhi,"  ujar Jafar, Senin (6/7/2020).

Menurut Jafar, banyak pihak yang terlibat dalam proses produksi susu di Jawa Barat. Dari mulai para petani sapi perah hingga masyarkat yang bekerja menyediakan pakan bagi sapi tersebut. 

"Jadi banyak masyarakat yang akan mendapat dampak yang positif di sisi ekonominya," katanya.

Dengan penggantian telur menjadi susu juga akan turut mempromosikan susu asal Jawa Barat yang memiliki kualitas jempolan. Berbeda halnya dengan telur, di mana saat ini Jawa Barat banyak mendatangkan dari luar provinsi, salah satunya dari Jawa Timur .

"Sebenarnya telur dan susu mengandung protein yang sama-sama dibutuhkan oleh masyarakat. Mungkin kalau kemarin telur itu cepat rusak karena distribusinya, ada yang dari luar provinsi. Mungkin juga sudah disimpan lama baru dibawa ke sini (Jabar) dengan waktu perjalan bisa 12 sampai 20 jam," papar dia. 

Keunggulan lainnya, dengan metode pengawetan Ultra High Temperature (UHT) susu sapi cenderung lebih tahan lama. 

"UHT tahan 8 sampai 12 bulan walaupun di suhu ruang. Kemudian dari distribusinya juga aman," katanya.

Adapun daerah di Jabar sebagai penghasil susu, di antaranya Kabupaten Bandung Barat (KBB), Kabupaten Bandung, Bogor, Kuningan, Tasik, Garut, Sukabumi, Sumedang dan Cianjur. 

"Semuanya ada sembilan kabupaten kota," pungkasnya.

Sementara itu, General Maneger Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Daerah Jawa Barat Yusuf Munawar mengatakan Jawa Barat merupakan salah satu provinsi pemasok susu sapi untuk nasional. Bicara soal kualitas, terdapat daerah di Jawa Barat yang dapat menghasilkan susu sapi dengan status super special grade. 

"Seperti di Lembang Kabupaten Bandung Barat dan Pangalengan Kabupaten Bandung itu masuk ke dalam super special grade. Karena TPC (total plate count) di bawah 100 ribu dan standar SNI TPC ini harus di bawah satu juta. Artinya susu di Jabar ini sudah di atas kualitas yang disyaratkan dalam SNI," ujar Yusuf.

Di GKSI sendiri, menurut Yusuf, saat ini memiliki sekitar 65.416 ekor dari 16 koperasi dan anggota peternak kurang lebih sekitar 17.248 anggota. "Dengan produksi susu per hari 459 ton," imbuhnya. 

Soal kuantitas, dia menyampaikan, sejauh ini suplai susu dari Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah hanya dapat memenuhi 18 persen kebutuhan nasional. Sehingga dibutuhkan penambahan populasi untuk meningkatkan produksi susu tersebut. 

Hal lainnya, pihaknya pun akan mendorong kemudahan masyarakat untuk mengkonsumsi susu yang memiliki gizi tinggi. Karena itu, sangat mengapresiasi kebijakan Gubernur Jawa Barat yang mengganti komponen telur menjadi susu ada bansos Covid-19 dari provinsi.

Terlebih, lanjut dia, bila bicara soal susu ada tiga kepastian yang didapatkan. Pertama kepastian membayar, kepastian harga yang tidak pernah melonjak terlalu tinggi dan kepastikan serap mengingat saat ini untuk kebutuhan susu nasional baru dapat menyerap 18 persen.

"Jadi susu dari masyarakat Jabar untuk masyarkat Jabar. Saya kira ini program dari pak gubernur ini barangkali sangat patut kita apresiasi," pungkasnya. (Rianto Nurdiansyah)