Konsep Bank Sampah, Purwakarta Optimistis Bisa Tekan 30 Persen Produksi Sampah

Konsep Bank Sampah, Purwakarta Optimistis Bisa Tekan 30 Persen Produksi Sampah
Foto: Asep Mulyana



INILAH, Purwakarta – Sampah sejauh ini masih menjadi salah satu persoalan yang perhatian sejumlah daerah. Seperti di Kabupaten Purwakarta, produksi sampah yang dihasilkan masyarakat terus meningkat setiap tahunnya, seiring banyaknya perumahan dan industri.

Atas dasar itu, sejak beberapa tahun terakhir Pemkab Purwakarta merumuskan formula supaya bisa menekan produksi sampah dari masyarakat sebelum dibuang ke TPA Cikolotok, Desa Margasari, Kecamatan Pasawahan. Adapun langkah strategis yang telah dilakukan, yakni dengan mengoptimalkan peran bank sampah.

Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika menuturkan, selama ini sampah yang dibuang ke TPA Cikolotok masih bersifat campuran, antara sampah organik dan anorganik. Padahal, menurutnya, jika masyarakat jeli sampah tersebut bisa dikelola menjadi barang bermanfaat bahkan bisa bernilai ekonomis.

“Selama ini, keberadaan sampah belum termanfaatkan dengan baik. Padahal, ini bisa dikelola dengan baik sehingga bernilai ekonomis,” ujar Anne kepada INILAH, akhir pekan kemarin.

Untuk itu, sambung dia, belum lama ini pihaknya merumuskan strategi terkait penanganan sampah di wilayahnya itu. Yakni, dengan mengoptimalkan peran Bank Sampah. Supaya, sampah yang dibuang atau diproduksi masyarakat ini bisa bermanfaat. Tujuan lainnya, tentu untuk menekan produksi sampah yang ada.

“Alhamdulillah, upaya kami ini mendapat dukungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutatan (KLHK) RI, “jelas dia.

Anne menuturkan, di 2019 lalu Pemkab Purwakarta mendapat bantuan untuk pengelolaan sampah tersebut. Di antaranya, anggaran untuk pembangunan gedung bank sampah, alat pres dan mesin pencacah sampah. Untuk bank sampah ini sendiri, lokasinya di Kampung Mulyas Sari, Ciwareng, Kecamatan Babakan Cikao.

“Saat ini, kami telah memiliki induk Bank Sampah. Akhir pekan kemarin, sudah diresmikan,” kata dia.

Dia berpendapat, selain membantu meminimalisasi produksi sampah, konsep bank sampah ini juga turut membantu perekonomian warga. Sehingga, sampah yang dihasilkan ini memiliki nilai manfaat, terutama dari sisi ekonomi.

Anne menuturkan, selain induk bank sampah, selama ini juga telah ada beberapa bank sampah yang dikelola oleh masyarakat di wilayahnya. Para pengelola bank sampah ini, baru tersebar di wilayah perkotaan. Oleh karenanya, ia ingin ke depannya bank sampah bisa menjadi alternatif masyarakat mendapatkan tambahan penghasilan.

“Kita dorong, kedepan setiap kecamatan punya satu induk bank sampah lengkap dengan alat-alat pendukungnya. Jadi, selain bisa menekan produksi sampah, hal ini juga turut membantu perekonomian warga,” tambah dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kabupaten Purwakarta, Deden Guntari menambahkan, sampai saat ini produksi sampah di wilayahnya masih didominasi sampah rumah tangga atau domestik. Jika di persentasikan, 60 persen sampah yang dibuang ke TPA Cikolotok merupakan hasil produksi rumah tangga, sementara 40 persennya dari industri.

“Merujuk pada data yang ada, saat ini lebih dari 700 meter kubik sampah dibuang ke TPA Cikolotok setiap harinya. Dengan adanya Bank sampah ini, kami targetkan produksi sampah bisa ditekan hingga 30 persennya,” ujar Deden.

Menurut dia, pengelolaan sampah itu harus dimulai dari bawah (rumah tangga). Makanya, kedepan, pihaknya akan mendorong masyarakat supaya memilah dulu sampah yang akan dibuangnya. Sampah tersebut, harus dipisahkan antara yang organik dan anorganiknya.

“Jadi, sebelum dibuang sampah tersebut harus dipisahkan dulu, mana yang organik mana yang anorganik,” jelas dia.

Nantinya, sambung dia, sampah yang sudah terkumpul dan terpisah ini ditabung di pengelola bank sampah. Kemudian, pihak pengelola akan mengolah sampah yang organik untuk jadi kompos. Kemudian yang anorganik, semilas plastik akan dikelola untuk didaur ulang kemudian dijual. (Asep Mulyana)