Haiti Umumkan Status Darurat Setelah Laporkan Kasus Pertama Virus COrona

Haiti Umumkan Status Darurat Setelah Laporkan Kasus Pertama Virus COrona
Ilustrasi/Antara Foto



INILAH, Haiti- Pemerintah Haiti mengumumkan status darurat nasional dengan menutup perbatasan dan menerapkan aturan jam malam setelah otoritas terkait melaporkan dua kasus pertama penularan jenis baru virus corona (COVID-19) pada hari yang sama.

Presiden Jovenel Moise dalam jumpa pers mengatakan seluruh pelabuhan, bandara, dan perbatasan di Haiti akan ditutup mulai Kamis malam. Namun, tiga sarana umum itu tetap akan beroperasi untuk distribusi barang.

Tidak hanya itu, pemerintah juga menutup sekolah, universitas, tempat ibadah, dan pusat hiburan. Jam malam pun akan berlaku mulai Jumat pukul 20:00 waktu setempat sampai 05:00, terang Presiden Moise.

Haiti merupakan salah satu negara di wilayah Karibia yang sempat tidak terdampak penyebaran COVID-19. Demi mencegah masuknya virus, pemerintah telah memberhentikan sementara penerbangan dari Eropa, Amerika Selatan, dan Kanada. Otoritas terkait juga memberlakukan aturan masuk yang ketat di perbatasan dengan Republik Dominika pada minggu ini demi mencegah penularan virus.

Banyak pihak meyakini Haiti kesulitan menangani wabah penyakit karena terbatasnya fasilitas dan sarana sanitasi serta layanan kesehatan yang kurang memadai. Salah satu kunci pencegahan COVID-19 adalah mencuci tangan dengan sabun secara teratur, tetapi sebagian besar masyarakat di Haiti tidak memiliki akses ke air bersih.

Lebih dari separuh populasi di Haiti hidup di bawah garis kemiskinan dengan pendapatan 2,41 dolar AS per hari (kurang lebih setara Rp39.000), demikian keterangan dari World Bank. Tidak hanya itu, warga juga baru pulih dari kolera yang mewabah kurang lebih sembilan tahun di Haiti. Menurut catatan Perserikatan Bangsa-Bangsa, kolera menewaskan hampir 10.000 jiwa.

Sementara itu di Afrika, Pemerintah Niger juga melaporkan kasus pertama positif COVID-19 yang ditemukan pada seorang pria berusia 36 tahun, demikian keterangan dari Kementerian Kesehatan dalam pernyataan tertulis, Kamis.

Pasien itu memiliki riwayat perjalanan ke Togo, Ghana, Pantai Gading, dan Burkina Faso.