Pembelajaran AKI Bagi lewat Chickenisasi Berhasil

Pembelajaran AKI Bagi lewat Chickenisasi Berhasil
Pemerintah Kota Bandung dengan Dinas Pendidikan (Disdik) Bandung menggelar “Chicken Fair AKI Bagi” di Alun-alun Ujungberung, Kota Bandung, Senin (9/3/2020). (okky adiana)



INILAH, Bandung - Sebagai bentuk tindak lanjut dan keberhasilan program model pembelajaran aktif, kolaboratif, dan integratif dalam penguatan pendidikan karakter Bandung Masagi (AKI Bagi), Pemerintah Kota Bandung dengan Dinas Pendidikan (Disdik) Bandung menggelar “Chicken Fair AKI Bagi” di Alun-alun Ujungberung, Kota Bandung, Senin (9/3/2020).

Ada beberapa sekolah dalam acara ini, seperti SMPN 1 Kota Bandung, SMPN 65, SDN Cempaka Arum, SDN Cimincrang, SDN Rancasagatan, SDN Sondariah, SDN Hanura, SDN Cigagak, SDN Cilengkrang, SDN Taruna Karya, SDN Cipadung, dan SDN Cikudayasa.

Wali Kota Bandung Oded M Danial menyebut, pertumbuhan anak ayam yang diurus oleh anak-anak SD dan SMP bagus sekali. Mudah-mudahan keberhasilan anak-anak ini mengelola dan mengurus anak ayam ini berhasil.


"Karena edukasi tujuannya kita ingin mencetak anak-anak berkarakter, tidak hanya sekadar cerdas secara intelektual, cerdas secara emosional, sosial, dan spiritual. Insya Allah Bandung Masagi bisa berhasil," kata Oded kepada INILAH di lokasi acara..

Oded menjelaskan, pembagian anak ayam atau chicken-isasi hanyalah salah satu upaya Pemerintah Kota Bandung membangun karakter anak. Pembagian anak ayam hanyalah salah satu dari program Bandung Masagi. "Ini hanyalah salah satu saja. Salah satunya ingin mengalihkan kecanduan gawai terhadap anak-anak," kata Oded.

Menurut Oded, memelihara anak ayam hanyalah bagian dari salah satu cara untuk menciptakan anak berkarakter silih asah, silih asih, silih asuh. Lewat Bandung Masagi, anak-anak Kota Bandung diajarkan tentang disiplin waktu, cinta lingkungan, cinta sesama, terutama cinta terhadap Tuhannya.

"Lewat chicken-isasi, anak-anak diajarkan tentang disiplin waktu. Mereka harus disiplin memberikan makan anak ayam, pagi-pagi sebelum sekolah harus memberi makan, begitu juga sore harinya," jelas Oded.

Tak hanya itu, memelihara anak ayam juga bagian dari proses edukasi anak. Anak juga diajarkan tentang ilmu hayati. "Ada silabus belajar penelitian tentang ayam. Jadi bukan semata-mata untuk mengalihkan kecanduan gawai terhadap anak. Pengalihan gawai hanya salah satu dampak saja," ulas Oded.

Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan SMP Disdik Kota Bandung Dani Nurahman menambahkan kegiatan ini sangat baik dan positif untuk anak-anak setingkat SD dan SMP. Intinya mereka bisa mempunyai kegiatan di rumah dan tidak melulu pegang Gawai dan hasilnya untuk mengubah karakter.

"Tadi beli lima anak ayam, harganya 750 ribu. Buat apresiasi kepada anak-anak. Bagus malah bisa dikembangkan, kalau bisa semua sekolah," kata Dani.

Kepala SMPN 46 Bandung Iis Siti Aisyah menerangkan, sebagai sekolah model, pihaknya mengikuti kegiatan penguatan pendidikan karakter Bandung Masagi di Alun-alun Ujungberung. Ada sekitar 325 ayam dan dibagi menjadi 20 kelompok.

Sebagai kepala sekolah, kegiatan ini adalah untuk pembentukan secara positif untuk pengembangan karakter kolaboratif seperti mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), Ekonomi, dan Matematika. "Mereka menghitung juga mengalkulasi biaya pemeliharaan anak ayam ini. Rasa kasih sayang, rasa ingin tahu, tanggung jawab, disiplin, kerja sama itu berkembang dengan baik," ujar Iis

Dia menyebutkan kendala terbesar yang dihadapi oleh siswa adalah, sebagian anak ayam mati, karena ayamnya masih kecil-kecil hanya dibekali minum dan makan dalam waktu tiga hari. "Waktu libur, mereka ditinggal, jadi saja mati. Kandangnya ada yang di sekolah, kandangnya dibuat oleh mata pelajaran prakarya," pungkas Iis. (okky adiana)