Prancis Bakal Ganti Istilah “Ayah” dan “Ibu” Menjadi “Orangtua I” dan “Orangtua II”

Prancis Bakal Ganti Istilah “Ayah” dan “Ibu” Menjadi “Orangtua I” dan “Orangtua II”
Prancis Bakal Ganti Istilah “Ayah” dan “Ibu” Menjadi “Orangtua I” dan “Orangtua II”



Dalam hal konsep keluarga, Prancis kian menuju arah yang mengkhawatirkan. Sekolah-sekolah Prancis dilaporkan akan mengganti kata “ibu” dan “ayah” dengan “Orangtua 1” dan “Orangtua 2”, menyusul disahkannya amandemen undang-undang melalui Parlemen Prancis, minggu ini.

Pengesahan ini bagai kekalahan bagi para pendukung konsep keluarga tradisional, yang juga dilatarbelakangi motif religiusitas. Russia Today melaporkan, konvensi penamaan baru ini disebutkan untuk mengakhiri diskriminasi terhadap orang tua yang berjenis kelamin sama (dari pernikahan sejenis).

Akan tetapi para kritikus berpendapat bahwa hal itu “tidak memanusiakan orang tua sebagai orang tua” dan dapat menyebabkan kebingungan tentang siapa yang akan diklasifikasikan sebagai “Orangtua 1”.


Amandemen itu, yang disahkan Selasa (12/2/2019), sebagai bagian dari rencana yang lebih luas untuk membangun apa yang disebut “sekolah kepercayaan”, juga untuk menegakkan rencana pembentukan sekolah wajib untuk semua anak berusia tiga tahun.

“Amandemen ini bertujuan untuk membasmi keragaman hukum keluarga anak-anak dalam formulir administrasi yang disampaikan di sekolah,” kata Valerie Petit, anggota parlemen dari partai mayorutas REM, partainya Presiden Prancis, Emmanuel Macron.

“Kami memiliki keluarga yang mendapati diri mereka dihadapkan pada kotak centang yang terjebak dalam model sosial dan keluarga yang agak kuno. Bagi kami, artikel ini adalah ukuran kesetaraan sosial,” ujar Petit.

“Saya sudah menulis bahwa saya sangat terkejut dengan ‘kontroversi’ di sekitar formulir orang tua/ibu/Ayah,” ujar mantan jurnalis Israel-Prancis, Julien Bahloul, yang merupakan orang tua dengan sesama jenis, dalam cuitannya. “Ibu dan ayah adalah orang tua, tidak ada yang menghina itu. Di #TelAviv formulir telah diubah sejak lama tanpa kekhawatiran,” kata Bahloul, masih di Twitter-nya.

Ideologi Menakutkan

Sementara itu, anggota parlemen konservatif, Xavier Breton, mengatakan, “Ketika saya mendengar orang mengatakan ini adalah ‘model kuno’, saya akan mengingatkan orang-orang bahwa hari ini di antara serikat pekerja yang dirayakan, sipil, atau perkawinan, sekitar 95 persen adalah pasangan pria-wanita.” Sesama Konservatif, Fabien Di Filippo mengecam langkah itu sebagai “ideologi yang menakutkan”.

Namun, bukan hanya kaum konservatif yang mempertanyakan efektivitas undang-undang baru. Alexandre Urwicz presiden asosiasi Perancis untuk orang tua (AFDH) yang mempraktikkan hubungan sesama jenis, khawatir bahwa undang-undang tersebut dapat menciptakan “hierarki orangtua”.

“Siapa ‘orangtua nomor 1’ dan siapa ‘orangtua nomor 2’?” Ia bertanya, seraya menambahkan bahwa mungkin “ayah, ibu, dan perwakilan hukum” yang kurang kontroversial, digunakan sebagai gantinya.

Debat berkecamuk di Twitter Perancis. Tagar #Parent1Parent2, ramai dipostingkan. “Suami saya dan saya berusaha memutuskan siapa orang tua 1 dan siapa orang tua 2,” canda seorang pengguna Twitter.

Proposal untuk menghilangkan istilah “ibu” dan “ayah” yang mendukung bahasa non-spesifik gender yang lebih inklusif, telah ada sejak debat 2013, sebelum pernikahan sesama jenis dilegalisasi di Prancis. Kala itu ribuan rakyat Prancis berkumpul di pusat kota Paris untuk memrotes aturan yang melegalisasi pernikahan sejenis dan adopsi anak oleh pasangan homoseksual.

Sebagian besar pendemo berasal dari kelompok sayap kanan. Sayap kanan adalah kalangan yang berasal dari komunitas agamais dan agamawan (khususnya Katolik) dan konservatif di Prancis, yang menentang pernikahan sejenis.

Demonstrasi antara kubu pendukung dan penentang aturan pernikahan sejenis ini telah terjadi sejak 2012. Rakyat Perancis terbelah sikapnya atas aturan ini. Para penentang pernikahan sejenis waktu itu menyatakan, konsep pernikahan untuk semua akan menghancurkan konsep keluarga tradisional.

Pemimpin gereja Katolik Perancis, Kardinal Andr Vingt-Trois, mengatakan, bahwa setiap visi kemanusiaan yang tidak bisa memahami perbedaan gender akan mengguncang fondasi masyarakat. Dia juga menggambarkan bahwa pernikahan gay sebagai kebohongan.***

 

sumber : https://dejournal.home.blog/