Sikap Kami: Pak Jokowi, Jauhilah Buzzer Itu

Sikap Kami: Pak Jokowi, Jauhilah Buzzer Itu



ADAKAH yang melarang Presiden Joko Widodo bertemu dengan buzzer dan influencer? Tentu saja tidak. Betapapun, mereka adalah warga negara. Kepala negara memiliki hak untuk bertemu dengan warganya.

Tetapi, pertemuan seperti yang terjadi di Istana Bogor, pekan lalu, patut kita sayangkan. Sebab apa? Buzzer di kita bukan sekadar pendengung. Buzzer –apakah dia ada di kubu A atau B—adalah destroyer, punya daya perusak.

Presiden Jokowi sebenarnya paham sekali hal itu. Itu sebabnya, selepas Pemilihan Presiden, dia menyampaikan tak ada lagi kampret dan cebong. Siapakah yang mengakrabkan kampret dan cebong dan terus mendengungkannya sampai saat ini? Tak lain tak bukan adalah buzzer.

Pertemuan yang konon beberapa kali terjadi itu, buat kita, adalah kontradiksi dengan keinginan Jokowi untuk menghilangkan cebong dan kampret. Bagaimana menghilangkannya jika untuk buzzer diberi karpet merah?

Kita tentu saja paham, siapapun politisi, tentu memetik manfaat dari aksi para buzzer. Tapi, mempertontonkan kepada publik bahwa seseorang memiliki kedekatan dengan buzzer yang di negeri kita bukan lagi sekadar pendengung, melainkan menyulut rasa kebencian antar kelompok, adalah hal yang tidak patut.

Kenapa begitu? Karena buzzer kita bukan hanya sekadar influencer. Bukan hanya menularkan pengaruh positif, sebaliknya jauh lebih banyak aura negatifnya. Seseorang yang hanya membela “tuannya” tanpa reserve dan membusukkan lawan politiknya sebusuk-busuknya.

Sungguh, aksi buzzer seperti yang terjadi di negeri ini, sebuah perilaku yang tak elok, cenderung menjijikkan, di tengah alam demokrasi. Apalagi, konon sebagian di antara mereka mendapatkan bayaran untuk aksi seperti itu.

Betapa buzzer kita tak hanya sekadar pendengung, melainkan juga perusak, setidaknya sudah dirasakan pemerintah sendiri tak lama setelah Jokowi bertemu para buzzer dan influencer itu. Pemerintah harus repot-repot membantah akan terjadi reshuffle hanya karena seorang buzzer mengicaukan akan adanya perombakan kabinet tak lama lagi.

Maka kepada Presiden Jokowi, juga pemimpin-pemimpin lainnya, kita sarankan untuk tak terlalu berdekatan dengan buzzer. Tak perlu. Sebab, rakyat sudah memberikan kepercayaan kepada Presiden Jokowi, juga pemimpin-pemimpin lainnya. Apalah artinya kepercayaan buzzer dibanding kepercayaan yang diberikan mayoritas rakyat kepada pemimpinnya?