Dua Tahun Citarum Harum

Dua Tahun Citarum Harum



SEPTEMBER 2018  lalu, kang Emil memposting kegelisahannya di akun instagram milik pribadinya. Dia merinci empat masalah besar Sungai Citarum, yaitu banjir, kotor, sedimentasi, dan semrawut. Dia meminta doa, agar empat masalah itu segera tuntas. 

"4 Masalah BESAR CITARUM yang akan diurai dan dicarikan solusi teknisnya selama 5 tahun kedepan, hasil Rapat kerja dengan para pengelola air sungai BBWS Jawa Barat. Doakan lancar dan mohon bersabar karena satu demi satu masalahnya akan coba diurai.#JABARJUARA" tulis beliau dalam laman instagram.

Tidak mudah menangani Sungai Citarum dengan berbagai permasalahannya yang ada. Asas gotong royong menjadi stretegi jitu guna mengentaskan tingkat ketercemaran Sungai terpanjang dan terbesar di Jabar ini.


Seiring waktu, banyak perkembangan tampak pada Sungai yang memiliki panjang alur sekitar 297 km dan Daerah Aliran Sungai (DAS) mencapai seluas 562.958 ha tersebut. 

Kang Emil sapaan akrab Gubernur Jabar Ridwan Kamil sudah bisa membuktikan jika dalam dua tahun terakhir ini ada progres positif. Faktanya, status Sungai Citarum berubah dari cemar berat menjadi cemar sedang. "Kemudian tahun depan cemar ringan targetnya, akhirnya menjadi kualitas air yang bisa berkehidupan yang baik," harap Emil.
 
Sejauh ini, model sinergitas pentahelix sudah mulai digalakkan Satuan Tugas (Satgas) Citarum. Di mana sejumlah stakeholder dilibatkan agar revitalisasi dapat tampak secara maksimal. "Setiap tahun kita harus ada progres 15-20 persen, jadi di akhir proses kita bisa mengembalikan Citarum seperti yang kita harapkan," katanya.

Krisis yang melanda sungai Citarum di antaranya disebabkan banyaknya alihfungsi lahan di kawasan hulu juga dijadikan tempat pembuangan limbah industri pabrik di kawasan tengah hingga hilir. Melalui peran sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) berbagai persoalan tersebut diatasi perlahan. "Sesuai arahan presiden kita fokus pada tema yang jadi primadona, yakni penanganan lahan kritis," katanya. 

Untuk mengentaskan lahan kritis ini dengan merencanakan program penanam 50 juta pohon pada 2020 ini dengan melibatkan masyarkat. Khususnya masyarakat yang sedang merasakan kebahagiaan. "Masyarakat yang ulang tahun tanam 1 pohon, yang menikah tanam pohon, yang baru rotasi jabatan juga bisa ikut yanam pohon. Kolaborasi dengan masyarakat akan kita lakukan," jelasnya.

Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Jawa Barat Epi Kustiawan menguatkan upaya yang tengah dilakukan Kang Emil, jajarannya sedang mengkoordinasikan penanganan lahan kritis melalui penanaman pohon tersebut dengan sejumlah stakeholder. Hal tersebut untuk memastikan luas lahan kritis yang bakal dientaskan pada tahun 2020 ini.  "Terlebih penanganan lahan kritis di Jabar dilaksanakan oleh beberapa Instansi yaitu Balai Pengelolaan DAS dan Hutan Lindung, Citarum Ciliwung dan Balai PDASHL Cimanuk Citanduy dan Pemprov Jabar," ujar Epi. 

Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura (TPH) Jawa Barat pun turut terlibat untuk penanganan lahan kritis DAS Citarum.  Salah satunya dengan penataan lahan pertanian sayuran dengan penerapan teras bangku.  "Bersama dinas lainnya juga bersinergi, seperti dengan  Dishut Jabar untuk mengembangkan agroforestri dengan mengembangkan jeruk, alpukat, kopi dengan tanaman kehutanan," ujar kepala Dinas TPH Hendi Jatnika. 

Tahun ini, dia mengatakan, pihaknya akan melakukan penyediaan benih buah-buahan sebanyak 400 ribu pohon. Ratusan pohon buah-buahan ini di antaranya bakal ditanam di lokasi DAS Citarum. "Bisa juga untuk agroforestri dan kebun buah-buahan yang mono kultur," pungkasnya. 

Proses Kasus Pencemaran
Mengkhawatirkan memang, jika  melihat tingkat ketercemaran yang melilit Sungai Citarum. Padahal sungai Citarum memberikan banyak manfaat bagi kehidupan makhluk hidup, misalnya air minum, pertanian, energi, keperluan sehari-hari masyarakat dan sebagainya.

Tercatat 25 juta penduduk yang dilayani dari Sungai Citarum ini, di mana 15 adalah masyarkat Jabar dan 10 DKI Jakarta. Sungai Citarum juga merupakan sumber air minum penduduk Bandung, Cimahi, Cianjur, Purwakarta, Bekasi, Karawang, dan 80% penduduk Jakarta (16 m3/s).

Selain berfungsi memelihara keanekaragaman hayati, Citarum juga mengairi lahan persawahan lebih dari 400 ribu hektare. Dan Pengurai limbah bagi berbagai industri yang membuang limbah cairnya ke DAS Citarum atau dari limbah rumah tangga.

"Ada yang sudah mengantongi izin tapi melanggar, ada yang pengolahannya tidak sesuai, ada juga yang melakukan kegiatan dilingkungan yang tidak mempunyai izin,” ujar Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat Prima Mayaningtias.