Bisnis Mangga dan Jual Beli RUmah, Tameng Rozaq Hindari Jeratan Hukum

Bisnis Mangga dan Jual Beli RUmah, Tameng Rozaq Hindari Jeratan Hukum
Foto: Ahmad Sayuti



INILAH, Bandung - Anggota DPRD Jabar dari Fraksi Golkar Abdul Rozaq Muslim disebut-sebut dalam tuntutan yang dibacakan JPU KPK kepada Carsa ES. KPK pun sebut bantahan Abdul Rozak soal pemberian dari Carsa terkait jual beli rumah dan bisnis pohon mangga cuma alibi untuk menghindar dari jeratan hukum.

Hal itu terungkap dalam sidang kasus dugaan suap terhadap bupati Indramayu Supendi dengan terdakwa Carsa ES di Pengadilan Tipikor Bandung, Jalan RE Martadinata, Rabu (19/20/2020).

Sidang dengan agenda tuntutan, JPU KPK Kiki Ahmad Yani menuntut Carsa ES hukuman penjara selama dua tahun dan enam bulan, denda Rp200 juta, subsider kurungan tiga bulan. Carsa dinyatakan terbukti melaukan tindak pidana korupsi (memberi suap) sebagaimana dakwaan primair, yakni pasal 5 ayat (1) huruf a UU Tindak Pidana Korupsi.

Dalam pembuktiannya yang dibacakan dihadapan majelis, Kiki menyebutkan, jika terdakwa memberikan uang kepada Bupati Indramayu Supendi Rp3,6 miliar, Kadis PUPR Indramayu Omarsyah Rp2,4 miliar, dan Kabid Jalan PUPR Indramayu  Wempi Triyoso Rp480 juta.

”Semua pemberian dilakukan terdakwa kepada para pejabat negara itu dimaksudkan agar terdakwa mendapatkan proyek pekerjaan di lingkungan Pemkab Indramayu,” ujarnya.

Sementara pemberian kepada anggota DPRD Jabar Abdul Rozaq Muslim oleh terdakwa sebesar Rp8,5 miliar, dimaksudkan agar Abdul Rozak Muslim membantu dalam proses penganggaran setiap pekerjaan di Kabupaten Indramayu yang bersumber dari bantuan provinsi (Banprov).

Masih dalam berkas tuntutannya, Kiki menungkapan, adapun alasan Abdul Rozaq Muslim pemberian dari terdakwa itu bukan terkait kepengurusan Banprov, namun keperluan jual beli rumah dan bisnis buah mangga yang totalnya hanya Rp1,6 miliar.

Namun, lanjutnya, hal itu tidak bisa dibuktikan karena tidak ada kekuatan hukumnya. Baik itu akad jual beli rumah, ataupun perjanjian kerjasama bisnis pohon mangga.  

”Usaha buah dan jual beli rumah hanya alibi (Rozaq) semata untuk menghindari dari jeratan hukum,” ujarnya.

Usai persidangan Kiki mengaku masih menunggu keputusan hakim dan fakta yang terungkap di persidangan, apakah pejabat lain yang disebut-sebut menerina uang dari Carsa bakal dijadikan tersangka atau tidak.

”Pejabat lain yang menerima suap, kita tunggu hasil persidangan dan keputusan majelis. Semua fakta yang terungkap di persidangan akan kita lapor kepimpinan, dan dilakukan penyelidikan lebih lanjut,” ujarnya.

Sementara itu, Kuasa Hukum Carsa, Halimi mengaku akan melakukan pembelaan pekan depan. Karena suap dilakukan terdakwa lantaran ada permintaan, dan jika terdakwa tidak memberikan akan berdampak kepadanya.

”Bagi kita inisiatif suap itu dari mana, dan siapa orangnya. Kemudian di samping itu motivasinya apa, dan dampak tidak memberi kepada terdakwa apa. Kita tidak boleh menafikan fakta, bahwa suap itu ada (terjadi),” katanya.

Tapi, lanjutnya, terdakwa tidak semata-mata meberikan suap jika  tidak ada permintaan. Selain itu, jika terdakwa tidak memberikan sesuai dengan permintaan itu, akan berdampak kepada terdakwa, misalnya tidak menerima pekerjaan.

”Jadi ada tiga point yang akan kita ungkap di pembelaan nanti. Siapa yang menyuap, dan disuap dan nilainya berapa. Terus motivasi memberi suap itu apa,” tandasnya. (Ahmad Sayuti)