(Sikap Kami) Mereka Bukan Pesakitan

(Sikap Kami) Mereka Bukan Pesakitan
Sejumlah Warga Negara Indonesia (WNI) yang dievakuasi dari Wuhan, Hubei, China melambaikan tangan kearah media saat akan melakukan senam bersama prajurit TNI pada hari ketigabelas di Hanggar Pangkalan Udara TNI AU Raden Sadjad, Ranai, Natuna, Kepulauan Riau, Jumat (14/2/2020). (Antara Foto)



DALAM urusan sehat dan sakit, yang layak kita percaya di negeri ini hanyalah otoritas kesehatan. Maka, kalau Kementerian Kesehatan sudah menyatakan tak seorang pun di antara warga kita yang baru dipulangkan dari Wuhan itu terjangkit virus corona, maka sikap kita sebaiknya adalah mempercayainya.

Rencananya, kesembilan orang itu, ditambah lagi seorang WNA, akan pulang ke Jabar. Mereka telah menjalani masa observasi selama 14 hari di Natuna, Kepulauan Riau.

Virus corona, harus kita akui, adalah kejadian kesehatan yang amat merisaukan. Jangankan kita di Jawa Barat, seantero dunia tersentak dan dilanda ketakutan atas virus yang berkembang dari Hubei, China itu. Angka kematian akibat virus itu sudah melebihi 1.000 orang.


Selama ini, tak satu-dua pasien-pasien yang sempat dikhawatirkan terjangkit virus itu di Jawa Barat. Kita patut bersyukur, kekhawatiran yang sempat lahir di Rumah Sakit Hasan Sadikin dan Rumah Sakit Daerah Gunungjati, Cirebon, hasilnya negatif.

Begitu pulalah hasil pemeriksaan dan observasi yang dilakukan terhadap sembilan warga Jabar yang terpaksa pulang merantau dari Wuhan, China itu. Hasilnya negatif.

Sementara, kita percaya dengan hasil observasi itu. Kita meyakini, untuk virus yang menakutkan dunia ini, otoritas kesehatan kita sudah berusaha sekuat mungkin untuk mendeteksi ada atau tidak di antara mereka yang terjangkit.

Kita patut waspada. Tapi tidak untuk curiga berlebihan. Kecurigaan yang berlebihan, selain tidak juga berarti apa-apa, juga bisa merusak kehidupan kita bermasyarakat.

Kita tidak ingin, keluarga-keluarga kita yang baru pulang dari Wuhan itu justru ditempatkan seolah-olah pesakitan. Itu vonis yang berlebihan. Tidak hanya membuat saudara-saudara kita itu merasa terkucilkan, juga tidak membantu apa-apa.

Maka, kita harus menerima mereka. Mereka, sejauh ini, patut kita anggap bukanlah pembawa virus yang menakutkan itu. Mereka adalah saudara-saudara kita yang pulang dengan kondisi kesehatan yang prima.

Bahwa kita waspada, tidak apa-apa. Artinya, perlu kita perhatikan saudara-saudara kita itu jika mengalami gangguan pernafasan, salah satu penciri orang terjangkit virus itu. Jika itu yang terjadi, sederhana saja, bawa ke enam rumah sakit di Jawa Barat yang disiapkan untuk itu.

Sekali lagi, kita mengingatkan bahwa saudara-saudara kita itu bukan pesakitan. Mereka saudara-saudara kita senormal-normalnya. (*)