(Sikap Kami) Bobotoh Itu Napas Persib

(Sikap Kami) Bobotoh Itu Napas Persib
Ilustrasi/Bambang Prasethyo



PERSIB itu bukan hanya sekadar klub sepak bola. Dia sebuah sejarah. Sejarah perjuangan panjang semua pemangku kepentingan Kota Bandung, bahkan Jawa Barat. Adalah keliru jika perusahaan dan manajemen yang memayungi Persib mengabaikan, apalagi melupakannya.

Bayangkanlah apa artinya Persib tanpa bobotoh, Persib tanpa media. Persib akan tetap jadi klub sepak bola, tapi tidak akan seperti Persib sekarang. Tak akan jadi klub yang diperbincangkan orang seantero Nusantara ini.

Belajarlah dari perjuangan bobotoh. Tak usah jauh-jauh, dekade 1980-an lalu. Bagaimana mereka menjejali Stadion Utama Senayan, membuat penonton tumpah ke lintasan pinggir lapangan. Itulah kecintaan bobotoh, sejak dulu hingga sekarang. Semata karena rasa cinta terhadap Persib.

Bagaimana juga media, wartawan dan koran pada dekade 1980-an itu, mengikuti detil perjalanan Persib kemanapun, agar kecintaan masyarakat Jabar terhadap klub tersebut tetap terjaga. 

Bagaimana pula Ateng Wahyudi, Dada Rosada, pada eranya, memberi perhatian lebih untuk Persib. Harap dicatat, di era mereka pula, Persib membukukan prestasi internasional. Bukan Persib saat sekarang.

Sekarang, apa yang jadi modal Persib? Modal terbesarnya, tak kurang tak lebih, adalah pendukungnya, bobotoh. Terbesar di Indonesia. Bahkan juga masuk salah satu terbanyak di dunia. 

Apakah Persib akan sukses secara komersial tanpa bobotoh? Sama sekali tidak mungkin. Nilai jual komersial tertinggi Persib bukan pada prestasinya, tapi bobotoh. Soal prestasi di lapangan, apa sih istimewanya Persib dibanding klub-klub papan atas lainnya di Indonesia?

Seharusnya PT Persib Bandung Bermartabat (PBB) dan manajemen, termasuk middle management Persib menyadari itu. Harus menjadikan bobotoh, juga media, wartawan, sebagai mitra. Bukan subordinat. Sebab, merekalah yang ikut mewarnai sejarah panjang Persib. Bahkan secara tak langsung menjadi “modal” Persib.

Wajar jika bobotoh kecewa dan mengapungkan tagar UnsubscribePersib dan jadi trending topic di Twitter karena Persib merasa besar sendiri. Wajar jika wartawan, media, juga kecewa karena aturan-aturan yang mengurangi keleluasaan tugas jurnalistik mereka.

Harusnya, hal-hal yang terjadi akhir-akhir ini, jadi pelajaran berharga bagi PT PBB dan manajemen Persib. Jika tidak, percayalah, bukan tak mungkin bobotoh atau media meninggalkan Persib, menjadikan klub ini sebagai klub rata-rata saja di Indonesia. (*)