Purwakarta Angkat Tangan Soal Perbaikan Jalur Provinsi dan Pusat

Purwakarta Angkat Tangan Soal Perbaikan Jalur Provinsi dan Pusat



INILAH, Purwakarta – Di Kabupaten Purwakarta, selama ini ada tiga jalur utama yang dipakai untuk mobilitas masyarakat. Yakni, jalur utama yang statusnya milik kabupaten, provinsi dan pusat. Memang, sejauh ini kondisi jalan di tiga jalur utama tersebut sudah sangat memadai. Hanya saja, memang ada beberapa titik yang kondisinya perlu ditingkatkan.

Plt Kepala Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Purwakarta, Hariman Budi Anggoro menuturkan, selama ini terus berjibaku untuk memberi keamanan dan kenyamanan kepada masyarakat dan para pengguna jalan. Hanya saja, pihaknya mengaku, dalam upaya ini terkadang terbentur aturan. Karena, soal perbaikan dan peningkatan tiga jalur utama ini bukan kewenangan pemkab seluruhnya.

“Kami sering kebanjiran keluhan dari masyarkat jika ada jalan yang mengalami kerusakan. Saat kami cek, ternyata itu terdapat di jalur milik pusat dan provinsi. Kalau di dua jalur itu, bukan kewenangan kami untuk memperbaiki,” ujar Hariman kepada wartawan, Kamis (6/2/2020).

Dia menjelaskan, pembagian kewenangan pengelolaan jalan itu tertuang dalam Undang-undang Nomor 38/2004. Jadi, dia menjelaskan, dalam hal ini pihaknya tak bisa berbuat banyak jika terdapat kerusakan jalan di dua jalur milik provinsi dan pusat tersebut. Meskipun, jalan-jalan di jalur ini sangat berperan penting.

“Yang mungkin bisa kami lakukan, yakni berkoordinasi. Supaya, dinas di provinsi atau pihak terkait di pusat segera melakukan perbaikan,” jelas dia.

Hariman mengaku, salah satu jalur nasional yang dikomplain masyarakat, misalnya jalan yang dimulai dari Cikopo Kecamatan Bungursari hingga Darangdan. Sedangkan, untuk jalan provinsi di Purwakarta saat ini terdapat tiga ruas yakni Jalur Pasar Rebo-Wanayasa, kawasan Waduk Jatiluhur dan Jalur H Iming-Karawang.

“Kalau masyarakat kan tidak tahu ini jalan siapa, itu jalan siapa. Tapi kalau masyarakat mengadu, kami akan koordinasikan secepatnya untuk penanganan,” kata dia. (Asep Mulyana)