Siswa SD Belajar di Aula Desa, Kadisdik: Yang Penting Bisa Tetap Belajar 

Siswa SD Belajar di Aula Desa, Kadisdik: Yang Penting Bisa Tetap Belajar 
Foto: Asep Mulyana



INILAH, Purwakarta – Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Purwakarta angkat bicara mengenai kondisi ratusan siswa SDN 1 Malangnengah, Kecamatan Sukatani yang belajar di aula kantor desa akibat sekolah mereka terkena gusuran proyek kereta cepat.

Menurut Kepala Disdik Purwakarta Purwanto, tidak menjadi soal jika para siswa SDN ini harus belajar di aula kantor desa daripada anak-anak tersebut tak belajar sama sekali. Dalam hal ini, pihaknya meminta pihak sekolah menyiasati waktu belajarnya. 

“Ya enggak apa-apa, daripada anak-anak gak belajar. Lagipula, anak-anak sudah biasa kok. Kalau di sekolah biasanya juga bising saat ada motor yang lewat,” ujar Purwanto, Rabu (8/1/2020).

Purwanto menegaskan, pihaknya telah meminta kepada pihak PT Kereta Cepat Indonesia Cina (KCIC) untuk menyelesaikan bangunan sekolah yang baru dalam waktu tiga bulan terhitung sejak awal 2020 ini. selain itu, pihaknya menekankan agar KCIC dapat mengganti lahan bangunan sesuai dengan lahan yang telah dihilangkan. 

“Pokoknya, kami minta 3 bulan kedepan sudah harus beres,” tegas dia.

Dia menambahkan, sejauh ini untuk sekolah yang terdampak proyek KCIC di Purwakarta yang dilaporkan baru SDN Malangnengah ini. Bangunan SD ini pun terpaksa dibongkar karena terlewati akses kereta cepat Jakarta-Bandung.

Sementara itu, Wakil Kepala SDN 1 Malangnengah Aja Sapja mengatakan pemindahan kegiatan belajar ke Kantor Desa Malangnengah sebelumnya sempat mendapatkan informasi tepatnya setahun lalu bahwa bangunan ini akan dirobohkan dan sementara belajar di kantor desa. 

“Akhir tahun kemarin dirobohkan setelah ada kesepakatan bersama,” jelas dia.

Dia menambahkan, bangunan SDN 1 Malangnengah yang baru ini berjarak 1,5 kilometer dari bangunan yang sebelumnya. Bangunan yang hendak dibangun ini berdiri di lahan milik desa seluas 8.000 meter persegi.

“Kabarnya, di bangunan baru ini akan ada 12 ruangan kelas, kantor, musala, dan perumahan buat guru,” pungkasnya. (Asep Mulyana)