(Sikap Kami) Biarlah Mereka, Kita Tidak

(Sikap Kami) Biarlah Mereka, Kita Tidak
Ilustrasi/Bambang Prasethyo



TIDAK perlu kita meniru Joko Widodo, Anies Baswedan, dan Basuki Hadimuljono, bersitegang mencari apa penyebab bencana yang terjadi. Kita harus berbangga dan berbesar hati, menyaksikan pemimpin-pemimpin kita di Jawa Barat, bahu-membahu membantu saudara-saudara kita yang tengah dilanda bencana.

Untuk apa kita mencari penyebab banjir, apalagi menyilangsengketakan. Bukan tidak penting. Tapi, segala urusan, kita pandang memiliki prioritas tertentu. Prioritas kita sekarang adalah mengevakuasi korban-korban yang terkepung oleh air bah dan longsor di wilayah Jawa Barat. Bukan soal apa penyebab banjir.

Kita patut bersyukur, berbangga hati, para kepala daerah di wilayah kita, memiliki empati dan kepedulian tinggi. Berlomba-lomba mereka mengirim bantuan tim evakuasi ke Kota Bekasi, Kabupaten dan Kota Bogor, tiga wilayah yang paling parah tertimpa banjir.

Dari Bandung telah terkirim tim SAR bantuan ke Kota Bekasi. Dari Cianjur dan Garut pun sudah meluncur tim ke Bekasi dan Bogor. Tujuannya serupa: membantu proses evakuasi, menyelamatkan saudara-saudara kita yang terancam di tiga titik tersebut.

Mencari penyebab bencana ini, buat kita, dalam posisi seperti sekarang, adalah prioritas kedua, atau ketiga. Ada waktunya untuk membicarakan, mendiskusikan. Itu bisa dilakukan ketika bencana sudah tertangani. Saat kepala kita sudah sama-sama dingin.

Selain evakuasi, yang tak kalah pentingnya harus disiapkan dengan sesegera mungkin adalah tanggap bencana. Inilah yang bisa meningkatkan kewaspadaan bagi saudara-saudara kita yang berada di lokasi rentan bencana.

Daerah kita, Jawa Barat tercinta ini, adalah wilayah yang sangat rentan bencana. Melebihi Jakarta. Jika ancaman utama Jakarta adalah banjir, Jawa Barat memiliki beragam ancaman: banjir, longsor, hingga puting beliung.

Dalam kondisi cuaca ekstrem seperti saat ini, yang patut kita kampanyekan kepada masyarakat adalah mengajak mereka untuk waspada terhadap segala macam ancaman bencana. Misalnya, menyarankan agar mereka yang tinggal di daerah dengan tanah labil, untuk mengungsi lebih dulu.

Setelah itu, setelah bencana ini selesai, barulah kita bicara soal sampah, bekas kasur yang melaju di sungai, penggerusan ekosistem alam, dan sebagainya. Saat ini, tak perlu kita fokus di sana, Biarlah Presiden Jokowi, Gubernur DKI Anies Baswedan, dan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono yang bersilat lidah soal itu. Kita tidak. (*)