(Sikap Kami) Lepaskan Ego Sektoral

(Sikap Kami) Lepaskan Ego Sektoral
Ilustrasi/ANTARA FOTO



BERAPA banyakkah warga Bogor yang mengurungkan niat beraktivitas di Jakarta karena banjir? Mungkin tak terhitung. Berapa pula yang tak jadi ke Tangerang? Bisa jadi, tak sedikit. Semua terhenti karena banjir.

Jakarta dan daerah penyangganya adalah kepentingan bersama. Karena itu, yang dibutuhkan untuk ikut menangani persoalan di Jakarta adalah kepedulian daerah penyangga. Sebagaimana Jakarta juga memberi ruang untuk berusaha bagi warga daerah penyangga.

Sebagian wilayah Jakarta, pada pergantian tahun, direndam oleh banjir. Selain sistem saluran air bermasalah, problem banjir lainnya di Jakarta disebabkan turunnya air dari daerah ketinggian, dalam konteks ini Bogor dan sekitarnya.

Kita sudah berkali-kali mendengar wacana kerja sama antara Jakarta dan daerah penyangga untuk mengatasi banjir. Tapi, hingga kini, persoalan belum juga tuntas.

Sebab apa? Karena masih tingginya ego sektoral dari masing-masing wilayah. Membahas pembangunan Jakarta dan daerah penyangga, sebagian di antaranya masuk wilayah Jawa Barat, bahkan sudah dilakukan ketika Joko Widodo masih Gubernur DKI Jakarta, Jawa Barat masih dipimpin Ahmad Heryawan, Banten masih bergubernur Ratu Atut Choisyah.

Salah satu rencana yang dibangun untuk mengurangi deras air dari kawasan Puncak ke Jakarta adalah pembangunan Bendungan Ciawi dan Sukamahi. Tapi, rencana penuntasan waduk ini selalu molor. Sebab, proses ganti ruginya pun berkali-kali molor.

Maka, untuk mengatasi persoalan-persoalan yang terjadi di Jakarta dan daerah penyangga, sejatinya yang dibutuhkan adalah kesungguhan, ketulusan, dan lepasnya ego sektoral dari pemimpin dan warga wilayah terlibat. Dalam hal ini adalah pemimpin-pemimpin di kawasan Jabodetabek dan tentu saja pemerintah pusat.

Dalam hal pembangunan dua waduk di Kabupaten Bogor, misalnya, persoalan ganti rugi jadi berlarut-larut. Padahal, waduk yang bisa menyimpan 30% air Ciliwung yang turun ke Jakarta itu, awalnya sempat ditargetkan tuntas tahun lalu. Faktanya, jauh panggang dari api.

Kita berharap, mulai detik ini, pemerintahan di Jabodetabek tak lagi menonjolkan ego masing-masing dan bersatu mengatasi persoalan yang ada di wilayah tersebut. Tak perlu saling menyalahkan. Misalnya, menyebut Bogor sebagai sumber banjir Jakarta. Sebagian air yang turun ke Jakarta memang berasal dari Bogor, tapi itu karena kelalaian secara bersama-sama mengatasi persoalan tersebut. (*)