Ngoding Santai Berkualitas, Pelatihan Programing ala Sanbercode

Ngoding Santai Berkualitas, Pelatihan Programing ala Sanbercode
Pendiri Sanbercode (Ngoding Santai Berkualitas), Khoirun.



Pemerintah, khususnya Kementerian Komunikasi dan Informatika, mengajak semua ekosistem untuk bersama menghasilkan talenta digital yang dibutuhkan. Kominfo sejak sejak tahun 2018 mengadakan Digital Talent Scholarship berupa beasiswa pelatihan keterampilan bidang teknologi informatika.

Program ini ditujukan bagi para lulusan SMA, SMK, perguruan tinggi maupun mahasiswa tingkat akhir untuk menyiapkan keterampilan bidang teknologi sebelum masuk lapangan kerja. "Kita harus mengajak semua ekosistem untuk bersama menghasilkan talenta digital yang dibutuhkan," kata Menteri Kominfo, Johnny G Plate saat di acara Penandatanganan MoU dan Perjanjian Kerja Sama Fresh Graduate Academy dan Vocational School Graduate Academy, Digital Talent Scholarship Tahun 2020 di Jakarta, Selasa (17/12/2019).

Di Bandung, ada Ngoding Santai Berkualitas,  yang digagas oleh Khoirun, Web and Apps Developer, lulusan ITB tahun 2009.  “Saya bukan lulusan IT, dulu kuliah di ITB di program studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) atau lebih dikenal dengan nama Teknik Planologi, tapi memang semenjak sekolah SMA saya suka ngoding terus ketika mahasiswa ya kalau gak organisasi, kuliah, ya kadang lanjut ngoding,” cerita Khoirun kepada INILAH saat ditemui di kantornya di daerah Sarijadi, Kota Bandung.

Khoirun dan kawan-kawan di perusahaannya memberikan training IT terinspirasi dari kisah sukses India. India pada tahun 1990-an, itu ada Perdana Menterinya, salah satu program yang dicetuskan yaitu program penguatan IT. Pemerintah India pada saat itu membuat materi untuk belajar sampai ke pelosok-pelosok, termasuk infrastruktur penunjangnya.

Sampai ke tingkat orang-orang desa juga diperkenalkan IT. Dan bagi masyarakat India yang tidak ada uang, nggak perlu mengenyam universitas, mereka boleh belajar dari materi yang didampingi sama pemerintah. Bahkan, dengan kelebihan dan kekurangannya, mereka yang sudah belajar diberi sertifikat keahlian setara dengan ijazah kalau di Indonesia.

Begitu pedulinya pemerintah India terhadap kemampuan IT itu, hasilnya bisa kita lihat para CEO besar di bidang IT itu rata-rata orang India, seperti Sundar Pichai adalah Chief Executive Officer Google, Satya Narayana Nadella adalah CEO Microsoft saat ini, dan banyak yang lainnya.

Dan, dapat Anda rasakan pengaruhnya sampai sekarang, mulai bermunculan di YouTube, video tutorial-tutorial yang tampil di YouTube yang banyak di-share orang menggunakan bahasa Inggris yang dialeknya India.

Kemudian, lanjut Khoirun, ada cerita bagaimana orang-orang India di-hire oleh Perusahaan Boeing, untuk membuat salah satu sistem yang dipakai di Boeing 737 Max yang dibayar per jamnya 9 dolar AS.

“Hikmahnya apa? Ternyata memang pasar di luar negeri itu kita itu kompetitif. Kompetitifnya,  di Singapura, mereka membayar programing sebesar Rp15 juta. Bagi Singapura, itu kayak bayar UMR tenaga mereka, receh atau murahlah bagi mereka. Tapi bayangkan kalau di kita, itu kan sangat lumayan,” katanya.

Apalagi memang project-project untuk  programing itu memungkinkan untuk dikerjakan secara remote, nggak perlu datang ke kantor/tempat kerja, terus risiko kecil, kalau jualan nasi padang nggak habis besok basi, modal harus ada, tempat harus ada, ini cuma laptop internet. Atau bisa dikerjakan di mana saja. Dan ternyata, pasarnya di luar negeri sangat besar terus kita berkaca ke India, kita juga gak kalah kompetitif bersaing di bagian fee-nya.

“Jadi memang niat kami itu akhir ujungnya itu penetrasi pasar luar negeri, dan mimpinya nanti, anak-anak desa gak usah ke mana-mana tinggal ngerjain project, terus dia dapat gaji profesional karena skill-nya sudah tinggi, 10-15 juta bagi mereka. Terus mereka belanja di desanya/ pengeluarannya di desanya, dia investasi nah maka maju tuh desanya,” papar Khoirun.

Jadi dari situ, kita buatlah itu training.  Ternyata memang banyak, orang yang lulus kuliah itu, juga kuliahnya rada kurang dijiwai, kemudian saya juga berbekal pengalaman belajar IT secara otodidak, saya belajar untuk, misalnya paham IT itu butuh enam tahun, ternyata pas saya pikir enam tahun itu saya ngapain saja, ternyata itu semua bisa disederhanakan nih, misalnya bisa jadi tiga bulan.

Awalnya kita coba-coba dulu sistem, awalnya bayar ada yang selama tiga bulan, ternyata terlalu lama. Kemudian ada yang tiga bulan tapi ya itu ada materinya seminggu sekali, tapi ya tadi terlalu lama. Kemudian yang ikut ternyata orang-orang yang tidak terlalu niat, ingin coba-coba saja.

Terakhir, ketemulah sistemnya. Pertama, training harus intensif, orang yang nggak bisa meluangkan waktunya selama 4-5 jam per hari pasti nggak bisa mengikuti training online. Berartikan, orang-orang kerja full time itu sudah berat itu mengikuti training tersebut, tersisih.

Selanjutnya, training dipadatkan selama sebulan, tiga pekan untuk materi online, karena sebenarnya dasar itu bisa via online. Nah, satu pekan lagi intensif dan secara tatap muka, tapi sebenarnya empat pekan itu intensif semua, bedanya pekan terakhir dilaksanakan secara tatap muka. Setiap hari ada tugas, ada materi, ada tugas, ada materi.

Lulusan Pelatihan ala Sanbercode sejak 2017 akhir itu sebanyak 200 orang, setiap pelatihan itu yang terseleksi sekitar sepuluh sampai lima belas orang. Dari 200 orang yang sudah lulus itu, lebih dari 50 persen terserap kemampuannya untuk mengerjakan project ataupun disalurkan. 

Itu semua sejalan dengan program pemerintah di bawah Menteri Kominfo, Johnny G Plate yang menargetkan akan ada 60.000 lulusan program talenta-talenta digital yang dibutuhkan Indonesia ke depan. (suro prapanca)