Kementan Sebut Banyak Air untuk Pertanian Terbuang Begitu Saja

Kementan Sebut Banyak Air untuk Pertanian Terbuang Begitu Saja
Ilustrasi/Asep Mulyana



INILAH, Subang – Kementerian Pertanian RI akan berupaya membantu para petani di sejumlah daerah untuk tetap produktif di musim kemarau.

Salah satu upayanya, dengan mendorong supaya petani bisa memiliki ‘tabungan air’. Caranya, bisa dengan membangun embung.

Staf Ahli Menteri Pertanian Fadil Bahar menuturkna, selama ini system menejemen air untuk keperluan pesawahan masih cenderung boros. Bahkan, banyak air terbuang begitu saja ke laut tanpa termanfaakna dengan maksimal. Tak heran, di musim kemarau seperti saat ini para petani kerap gelimpungan untuk mencari sumber air untuk mengairi sawahnya.

“Sebenarnya air di kita itu banyak. Tapi, hanya mengalir begitu saja. Bukannya disimpan tapi dibuang ke laut. Ini keliru. Jadi, kedepan harus sudah ada gerakan menyimpan air dalam bentuk embung,” ujar Fadil kepada INILAH, berkunjung ke Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Kecamatan Ciasem Kabupaten Subang, akhir pekan kemarin.

Menurut dia, setiap daerah harus memiliki embung. Khusus, di lahan persawahan yang kategori tadah hujan. Tujuannya, untuk menampung air saat musim hujan sehingga dapat digunakan mengairi persawahan pada musim kemarau.

“Embung ini, bisa berbentuk bulat atau memanjang. Yang bagus itu yang panjang supaya bisa menjangkau lahan lebih luas. Minimalnya, memiliki lebar dan kedalaman masing-masing 4-5 meter dengan panjang sesuai cakupan sawahnya,” jelas dia.

Namun demikian, sambung dia, dalam hal ini petani juga diminta lebih menghemat air untuk mengairi sawahnya. Karena menurut hasil penelitiannya, pertumbuhan padi justru lebih baik di lahan yang tidak tergenang.

“Sistem pengairan tersebut dinamakan irigasi tetes. Kenapa air tak boleh digenangi, supaya bisa mematikan gulma. Kalau gulma bisa dikendalikan tidak perlu sebanyak itu airnya. Lebih baik airnya untuk daerah lain,” kata dia.

Pada kesempatan lain, Ketua Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Dwi Andreas Santosa mengakui sistem pengairan tersebut lebih baik dibandingkan tanaman padi yang tergenang. Sistem tersebut disebut intensifikasi beras atau System of Rice Intensification (SRI).

“Jadi sawah itu tidak dibuat tergenang, hanya dibiarkan basah saja. Itu memang terbaik secara teori sehingga tanaman padi mendapatkan lebih banyak oksigen," katanya.

Terkait pembuatan embung, pihaknya jjuga mendukung selama tidak mengorbankan lahan milik para petani. Dengan kata lain, pihaknya berharap pemerintah juga turun tangan dalam pembangunan embung. Bila perlu pemerintah beli lahan itu," katanya.

“Kami juga berharap, embung tersebut dibangun secara permanen,” pungkasnya. (Asep Mulyana)