Bisa Rugi Rp1,5 M, PT KAI Tertibkan Rumah di Kota Cirebon

Bisa Rugi Rp1,5 M, PT KAI Tertibkan Rumah di Kota Cirebon



INILAH, Cirebon – PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi 3 Cirebon berpotensi kehilangan pendapatan persewaan aset senilai lebih dari Rp1,5 miliar.
 
Potensi kehilangan itu berasal dari sebuah rumah di Jalan Tentara Pelajar Nomor 13, Kelurahan Pekiringan, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon, dengan luas tanah 1.300 m2 dan luas bangunan 161,8 m2. Rumah tersebut diklaim sebagai aset PT KAI Daop 3 Cirebon yang ditempati mantan pegawai kereta api, Sumartoyo (Alm).
 
Selasa (11/12) pagi, PT KAI Daop 3 Cirebon menertibkan aset rumah yang sepeninggal Sumartoyo ditempati istri dan anggota keluarganya. Penertiban melibatkan sedikitnya 300 personil yang terdiri dari pekerja PT KAI, Polri, maupun TNI.
 
Manajer Humas PT KAI Daop 3 Cirebon, Krisbiyantoro mengklaim, penertiban itu sebagai bentuk penyelamatan aset milik Negara dengan dasar Sertifikat Hak Pakai Nomor 21 Tahun 1988. Sebelum penertiban, pihaknya telah melakukan serangkaian proses, di antaranya pendekatan persuasif hingga peringatan.
 
“Langkah ini dilakukan untuk mengamankan aset Negara yang saat ini dikuasai sekelompok orang, yang secara sepihak menerima penyerahan rumah dari penghuni sebelumnya yakni keluarga Sumartoyo (Alm),” kata Krisbiyantoro di sela penertiban.
 
Dia memastikan, Sumartoyo (Alm) sudah tak lagi berdinas. Pada 31 Desember 2010, masa kontrak rumah tersebut berakhir dan tak diperpanjang. Tim Penertiban Aset PT KAI Daop 3 Cirebon sendiri telah melakukan upaya persuasif agar penghuni memenuhi kewajiban membayar sewa atau dengan sukarela menyerahkan rumah perusahaan tersebut.
 
Mengingat upaya itu tak diindahkan penghuni, PT KAI pun melayangkan tiga kali surat peringatan untuk pengosongan rumah. Namun, upaya itu pun mentok sehingga langkah penertiban dan pengosongan rumah pun dilakukan PT KAI Daop 3 Cirebon.
 
Selain masa kontrak yang habis, penghuni (keluarga Sumartoyo) juga diklaim telah melanggar kontrak dengan mengubah peruntukan bangunan dari hunian biasa menjadi tempat usaha (warung). Perubahan fungsi itu telah menjadi temuan Badan Pengawas Keuangan (BPK) yang harus ditindaklanjuti, sehingga pihaknya terpaksa melakukan tindakan terakhir berupa penertiban.
 
“Ditertibkan karena peruntukannya pun berubah fungsi, dari hunian biasa jadi usaha berupa warung, yang menghasilkan pendapatan bagi penghuni. Ini tak bisa kami tolerir,” beber Krisbiyantoro lagi.
 
Atas pelanggaran yang dilakukan penghuni, potensi pendapatan persewaan aset PT KAI yang hilang hingga 2018 senilai Rp1.503.066.400. Dia mengatakan, bila penghuni aset rumah hendak mengubah fungsi, cukup melaporkannya kepada PT KAI dan mengubah kontrak.
 
Sepanjang 2018 sendiri, Krisbiyantoro menyebutkan, sedikitnya empat aset rumah perusahaan telah ditertibkan. Sebelum langkah penertiban diambil, tegasnya, pihaknya berupaya mengedepankan tindakan persuasif dan tahapan-tahapan prosedural, yang terakhir dalam bentuk surat peringatan.
 
“Kami lebih pada edukasi untuk tertib dan sadar diri bahwa rumah yang ditempati itu merupakan aset Negara yang pengelolaannya diserahkan kepada PT KAI,” tegasnya.
 
Menurutnya, bila edukasi itu diterima dan berjalan lancar, penghuni akan membayar kewajibannya dengan tertib dan memberi keuntungan bagi Negara. Aset rumah PT KAI sesungguhnya boleh ditempati siapa saja, asal memenuhi syarat sewa menyewa.
 
Sewa yang ditawarkan pun terbagi dua macam, masing-masing kontrak hunian usaha atau usaha. Bila klausul berupa kontrak hunian pribadi, harga yang ditetapkan lebih murah. Lain halnya dengan hunian campur seperti untuk usaha, biaya sewa lbih mahal dan disyaratkan tak mengubah hunian asli.
 
“Yang ditertibkan itu kategorinya tak bisa lagi diajak kompromi. Peruntukan setelah penertiban, itu tergantung kebijakan PT KAI sebagai pengelola,” tambahnya.
 
Dia menandaskan, jumlah aset rumah milik PT KAI Daop 3 Cirebon yang meliputi satu kota dan enam kabupaten mencapai 663 unit. Pihaknya memastikan akan terus mengoptimalkan aset-aset tersebut, mengingat sampai sekarang belum optimal 100%.